RSUD CAM Bekasi Buka Suara Soal Polemik Kunjungan Rohani ICU: Diizinkan, Tapi Ada Aturannya

Kota Bekasi, MI - Polemik soal kebijakan kunjungan rohani di ruang ICU RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid (RSUD CAM) Kota Bekasi akhirnya mendapat titik terang. Manajemen rumah sakit melayangkan hak jawab resmi atas pemberitaan berjudul: "Surat Terbuka Istri Pasien ICU RSUD Bekasi Dorong Pendampingan Rohani: Kesehatan Bukan Hanya Fisik, Tapi Juga Jiwa".
Melalui surat bernomor 400.14.5.6/741/RSUD http://dr.CAM.Set, Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD CAM, Yuli Swastiawati, menegaskan komitmen rumah sakit untuk terus memberikan pelayanan yang ramah, sigap, unggul, dan terpercaya. Ia meluruskan bahwa kunjungan rohani pada dasarnya tetap diizinkan, namun harus mengikuti aturan yang berlaku demi keselamatan bersama.
Aturan Ketat ICU: Soal Nyawa dan Infeksi
Dalam klarifikasinya, Yuli menjelaskan kebijakan pembatasan di ICU Paru Alamanda dibuat dengan pertimbangan utama: keselamatan pasien, pengendalian infeksi, dan ketertiban layanan.
“Saat pasien dalam kondisi kritis, tenaga medis akan memprioritaskan tindakan penyelamatan nyawa. Prosedur ini merupakan standar umum di semua fasilitas kesehatan untuk memastikan kualitas layanan dan perlakuan yang adil bagi seluruh pasien,” tegas Yuli.
Sebagai bukti, RSUD CAM turut melampirkan dokumentasi foto dan video pelayanan bimbingan rohani yang pernah diberikan kepada salah satu pasien. Artinya, bukan berarti kunjungan rohani ditutup total.
Apresiasi Kritik, Tapi Minta Berimbang
Manajemen RSUD CAM menyampaikan penghargaan atas masukan masyarakat, meski menilai pemberitaan sebelumnya belum sepenuhnya utuh dan berimbang. Rumah sakit menegaskan keterbukaannya terhadap kritik dan berjanji melakukan evaluasi berkala.
“Kami akan terus meningkatkan komunikasi dengan pasien dan keluarga, serta memastikan setiap kebijakan dapat dipahami dengan baik oleh publik. Kami juga berharap media menyajikan informasi yang akurat dan berimbang dengan mendengar kedua belah pihak,” tulis Yuli dalam surat hak jawab.
PR Besar: Komunikasi yang Lebih Manusiawi
Meski penjelasan resmi sudah disampaikan, publik tetap menaruh harapan besar agar RSUD CAM membenahi satu hal krusial: cara berkomunikasi petugas di lapangan.
Penjelasan aturan memang penting. Tapi keluarga pasien yang sedang dilanda cemas butuh bahasa yang lebih sabar dan lembut, bukan sekadar membacakan SOP. Keramahan dan kesabaran petugas saat menjelaskan alasan pembatasan akan membuat keluarga lebih mudah menerima keputusan, tanpa merasa diabaikan.
“Komitmen ramah dan terpercaya jangan cuma jadi jargon di spanduk. Harus terasa di setiap interaksi. Keluarga nggak butuh aturan kaku, tapi penjelasan yang memanusiakan,” ujar salah satu pengamat layanan publik di Bekasi.
Publik juga berharap proses penyampaian informasi berjalan lebih terbuka dan teratur. Jangan sampai keluarga pasien bingung mencari tahu alasan di balik kebijakan. Dengan komunikasi yang tepat, RSUD CAM tidak hanya menyembuhkan fisik, tapi juga memberi rasa nyaman di masa sulit.
Awal Mula: Surat Terbuka Istri Pasien
Polemik ini bermula dari surat terbuka Cinde Asmoro, istri almarhum Mawet Artha Hendrico Siregar yang pernah dirawat di ICU Paru Alamanda. Dalam suratnya, Cinde mengawali dengan apresiasi tinggi atas dedikasi dokter dan perawat RSUD CAM yang merawat suaminya hingga akhir hayat.
Namun ia juga mencatat pengalaman pahit, pendeta selaku petugas rohani tidak diizinkan masuk mendampingi suaminya yang kritis, karena di luar jam besuk.
“Bagi kami, pendampingan rohani memiliki makna sangat dalam sebagai penguatan spiritual di masa-masa terakhir. Kami berharap ada pertimbangan kebijakan pengecualian yang terbatas dan terkontrol, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan ICU,” tulis Cinde.
Ia menegaskan surat tersebut bukan untuk menyalahkan, melainkan masukan dari rasa kehilangan. “Harapan saya, pelayanan kesehatan berkembang tidak hanya dari sisi medis, tapi juga kemanusiaan, empati, dan kebutuhan spiritual,” tutupnya.
Catatan Redaksi:
Kasus ini jadi pengingat: rumah sakit merawat manusia, bukan sekadar tubuh. SOP penting, tapi empati tak kalah vital. Ketika RSUD CAM membuka ruang dialog dan berjanji evaluasi, itu langkah maju. Tugas selanjutnya: memastikan janji itu sampai ke sikap petugas di garda depan. Sebab bagi keluarga pasien, satu kalimat lembut bisa lebih menyembuhkan daripada seribu aturan. (M. Aritonang)
Topik:
