Magelang, MI - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memulihkan pasokan air bersih bagi sekitar 4.000 kepala keluarga (KK) di tujuh desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang terdampak banjir lahar hujan Gunung Merapi pada Maret 2026. Upaya tersebut dilakukan dengan jaringan pipanisasi sepanjang lebih 30 kilometer (km).
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengatakan pembangunan jaringan air bersih itu merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan pascabencana berlangsung cepat dan mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut Suharyanto, Kabupaten Magelang termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, terutama akibat ancaman erupsi dan banjir lahar hujan Gunung Merapi.
Ia menjelaskan, hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan hulu lereng Merapi pada Selasa (3/3/2026) sekitar pukul 16.30 WIB memicu banjir lahar hujan. Material vulkanik berupa pasir, batu, dan lumpur terbawa arus sungai hingga menerjang sejumlah wilayah di bawahnya.
“Peristiwa tersebut berdampak pada 11 desa di tiga kecamatan, yakni Dukun, Sawangan, dan Mungkid. Aliran material lahar mengakibatkan kerusakan pada permukiman, lahan pertanian, serta sejumlah infrastruktur vital, seperti jalan, jembatan, dan jaringan air bersih yang menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat di lereng Merapi,” kata Suharyanto dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Bencana itu tak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menewaskan lima orang serta menghanyutkan sejumlah kendaraan milik penambang pasir di bantaran sungai.
Sebagai langkah pemulihan, BNPB berkolaborasi dengan Komisi VIII DPR dan Pemerintah Kabupaten Magelang untuk membangun kembali jaringan air bersih yang lebih aman dan andal. Perbaikan akses air bersih menjadi prioritas karena merupakan kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat setelah bencana.
“Air bersih adalah sumber kehidupan. Alhamdulillah, melalui kolaborasi yang kuat, mulai hari ini kendala krisis air bersih bagi 4.000 KK di tujuh desa sudah dapat diatasi,” imbuhnya.
Untuk mempercepat proses tersebut, BNPB menggelontorkan Dana Siap Pakai (DSP) sebesar Rp3 miliar. Anggaran itu digunakan untuk membangun kembali jaringan air bersih sepanjang sekitar 33,3 kilometer yang melayani 4.010 KK di tujuh desa terdampak, yakni Desa Sumber, Krinjing, Paten, Sengi, Keningar, Sewukan, dan Wates di Kecamatan Dukun.
“Pembangunan jaringan pipanisasi dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat melalui pemasangan pipa secara swadaya, sehingga distribusi air bersih dapat segera kembali normal dan dimanfaatkan oleh warga,” tuturnya.
