Gresik, MI - Smelter tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur, terganggu setelah mengalami kebocoran boiler pada Sabtu (8/8/2026). Fasilitas yang dioperasikan PT Smelting itu kini tidak dapat beroperasi penuh, sehingga pengiriman katoda tembaga dari Indonesia ikut tersendat.
PT Smelting merupakan smelter yang 65% sahamnya dikuasai Freeport Indonesia, sementara 35% sisanya dimiliki Mitsubishi Materials Corporation. Mitsubishi Materials menyatakan aktivitas operasional PT Smelting telah ditangguhkan menyusul gangguan tersebut.
Evaluasi dan perbaikan masih dilakukan untuk memulihkan fasilitas produksi. Belum ada kepastian kapan smelter tersebut kembali beroperasi normal.
Gangguan ini terjadi saat pasar tembaga global tengah menghadapi pasokan yang ketat. Harga tembaga acuan London Metal Exchange (LME) bahkan bertahan di atas US$14.000 per ton dalam sekitar sepekan terakhir.
Sejumlah media lokal melaporkan warga yang tinggal beberapa kilometer dari lokasi smelter mendengar suara dentuman keras pada Sabtu dini hari. Suara tersebut diduga berasal dari fasilitas PT Smelting.
Manajemen PT Smelting membenarkan adanya gangguan di area produksi. Namun, perusahaan memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Manajemen juga masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab gangguan dan menilai dampaknya terhadap kegiatan operasional.
Harga Tembaga Naik
Gangguan smelter Freeport terjadi ketika pasar global sedang sensitif terhadap pasokan tembaga. Terhambatnya pengiriman dari Indonesia berpotensi menambah tekanan pada ketersediaan komoditas tersebut.
Harga tembaga kontrak berjangka tiga bulan di LME naik 0,60% menjadi US$14.160 per ton.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap semakin ketatnya pasokan tembaga global.
Bahlil: Saya Cek Dulu
Gangguan smelter PT Smelting juga menjadi perhatian pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku belum menerima laporan mengenai kondisi fasilitas tersebut.
“Saya cek dulu ya,” kata Bahlil di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Hal serupa disampaikan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno. Dia mengatakan belum mengetahui adanya kerusakan di smelter PT Smelting.
“Belum, belum tahu," ujar Tri di lokasi yang sama.
Di sisi lain, sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut smelter di Gresik tersebut berpotensi ditutup selama beberapa pekan untuk menjalani perbaikan.
Smelter Tembaga Pertama RI
PT Smelting merupakan smelter tembaga pertama di Indonesia. Fasilitas ini dibangun pada 1996 melalui kerja sama Freeport dengan konsorsium Jepang dan kemudian dioperasikan Mitsubishi.
Smelter yang berlokasi di Gresik tersebut mampu mengolah hingga 1 juta ton konsentrat tembaga menjadi sekitar 300.000 ton katoda tembaga setiap tahun.
Produksi katoda tembaga PT Smelting digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri sekaligus pasar ekspor.
