Kotawaringin, MI– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, seiring memasuki puncak musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat luas lahan yang terbakar sejak awal Juli 2026 telah mendekati 11 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan luasan tersebut merupakan akumulasi sejumlah peristiwa karhutla yang terjadi sejak Selasa (30/6/2026) hingga Sabtu (4/7/2026).
"Luas lahan yang terbakar sudah mendekati 11 hektare sejak hari Selasa hingga hari ini, 4 Juli 2026, lima hari," ujar Multazam.
Berdasarkan hasil pemantauan menggunakan pesawat nirawak (drone), dua titik kebakaran ditemukan di Kecamatan Mentaya Hulu dengan luas sekitar tiga hektare. Sementara di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, api menghanguskan sekitar empat hektare lahan.
Karhutla juga melanda kawasan Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang, yang lokasinya berada tidak jauh dari Bandara H Asan Sampit. Di wilayah tersebut, sekitar empat hektare lahan dilaporkan terbakar.
Selain itu, patroli udara BPBD juga mendeteksi kebakaran di lahan gambut Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Dari pantauan sementara, api diperkirakan telah membakar sekitar lima hektare lahan gambut.
"Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD masih berada di lokasi untuk melakukan ground check dan memastikan kondisi di lapangan," kata Multazam.
Menurutnya, proses pemadaman di lahan gambut jauh lebih sulit dibandingkan lahan biasa karena api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga berpotensi kembali muncul meski bagian permukaan tampak padam.
"Kebakaran terjadi di kawasan bergambut yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses pemadaman karena api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah," jelasnya.
Untuk mempercepat penanganan, personel TRC BPBD bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Eka Bahurui kini terus menyisir kawasan terdampak guna mencari jalur yang dapat dilalui menuju titik kebakaran.
"Statusnya masih proses ground check. Petugas sedang mencari akses menuju lokasi agar operasi pemadaman darat dapat segera dilakukan," ujarnya.
Menghadapi ancaman karhutla yang diperkirakan terus meningkat selama musim kemarau, BPBD Kotim memperketat patroli dan pemantauan di wilayah-wilayah rawan kebakaran guna mendeteksi titik api sedini mungkin.
Di saat yang sama, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar karena kondisi cuaca yang semakin kering membuat api sangat mudah meluas.
"Kami mengimbau masyarakat tidak menggunakan api saat membuka lahan. Mencegah kebakaran jauh lebih baik daripada harus menghadapi dampak yang ditimbulkan setelah api meluas," tegas Multazam.**
