Sampit, MI – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang menurun drastis dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.
Sejak Senin (3/8/2026) pagi, asap tampak menutupi sejumlah ruas jalan utama di Sampit. Selain mengurangi jarak pandang, bau asap yang menyengat juga memicu gangguan pernapasan, seperti tenggorokan perih dan batuk bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Meski banyak warga mulai mengenakan masker, masih terlihat pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang beraktivitas tanpa alat pelindung pernapasan.
Salah seorang warga Sampit, Rizky Abdi, mengaku kondisi kabut asap pagi ini jauh lebih pekat dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
"Ketika terhirup langsung batuk, ditambah lagi debu jalan," ujarnya.
Kabupaten Kotawaringin Timur saat ini masih berstatus tanggap darurat karhutla. Titik-titik api masih bermunculan di sejumlah lokasi, sementara tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman dan penanganan di lapangan.
Data Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menunjukkan jarak pandang pada pukul 06.00 WIB hanya mencapai sekitar dua kilometer akibat kabut dan halimun. Saat itu suhu udara tercatat 24,2 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 95 persen, sementara angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 4 kilometer per jam.
Satu jam kemudian kondisi mulai membaik. Pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang meningkat menjadi sekitar lima kilometer. Namun, halimun masih menyelimuti wilayah tersebut dengan kelembapan udara tetap tinggi.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan saluran pernapasan.
Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan asap, mengingat kondisi udara dapat berubah dengan cepat mengikuti arah angin selama kebakaran masih berlangsung.**
