Kupang, MI– Seorang Sekretaris Lurah Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial Melkianus Tosi, dilaporkan ke polisi setelah diduga menganiaya seorang siswa SMK Pelayaran Kupang berinisial SAM (16). Peristiwa itu diduga terjadi saat pelaku berada di bawah pengaruh minuman keras.
Insiden berlangsung pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 21.00 Wita. Korban bersama seorang temannya baru pulang dari kawasan hutan ketika dihampiri pelaku di jalan raya Kelurahan Penkase Oeleta. Saat itu, pelaku menuduh keduanya sebagai pelaku pembakaran lahan di sekitar lokasi.
Meski telah membantah tuduhan tersebut, korban mengaku tetap menjadi sasaran amarah pelaku. Sekretaris lurah itu diduga melontarkan kata-kata kasar sebelum memukul korban hingga dua kali di bagian dahi dan dada, menyebabkan korban terjatuh ke tanah. Aksi tersebut baru berhenti setelah teman korban berusaha melerai.
Ayah korban, Robertus Mabilani, mengatakan anaknya menjadi korban penganiayaan saat pelaku diduga dalam kondisi mabuk.
"Anak saya kena pukul dua kali di bagian dahi dan dadanya sampai terjatuh. Saat itu, Nus Tosi itu mabuk miras," ujar Robertus.
Menurut Robertus, setelah dipukul, anaknya langsung menghubunginya untuk menceritakan kejadian tersebut. Ia kemudian mendatangi rumah terduga pelaku guna meminta penjelasan. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil karena pelaku justru membantah telah melakukan penganiayaan.
"Saya berharap kasus tersebut harus ditangani secara serius," tegas Robertus.
Merasa tidak mendapatkan penyelesaian, keluarga korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polresta Kupang Kota. Korban juga telah menjalani visum sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Kepala Seksi Humas Polresta Kupang Kota, Iptu Frangky Lapuisaly, membenarkan laporan tersebut telah diterima dan kini sedang ditangani penyidik.
"Sudah dilaporkan sekitar pukul 00.00 Wita. Kemudian, sekitar pukul 03.00 Wita, kami bawa korban untuk divisum," kata Frangky.
Polisi kini masih mengumpulkan keterangan saksi dan alat bukti untuk mengungkap secara utuh dugaan penganiayaan yang melibatkan seorang aparatur pemerintah tersebut.**
