BREAKINGNEWS

Marwah Kesultanan Aceh Disebut Mulai Pudar, Generasi Muda Diminta Jangan “Gadoh”

Marwah Kesultanan Aceh Disebut Mulai Pudar, Generasi Muda Diminta Jangan “Gadoh”
Muhammad Rafsanjani (Foto: Istimewa)

Aceh, MI – Aceh dinilai tengah menghadapi ancaman serius berupa krisis identitas di tengah derasnya arus globalisasi dan degradasi moral generasi muda. Kondisi itu disorot dalam tulisan aktifivis asal Aceh, Muhammad Rafsanjani yang menegaskan bahwa kejayaan Kesultanan Aceh tidak boleh berhenti hanya sebagai romantisme sejarah tanpa arah.

Menurutnya, Aceh pernah berdiri sebagai salah satu pusat peradaban Islam terbesar di dunia pada era Sultan Iskandar Muda. Namun kini, sebagian generasi muda justru dinilai mulai tercerabut dari akar budaya, sejarah, dan nilai-nilai keislaman yang selama ini menjadi fondasi kekuatan Aceh.

“Ancaman terbesar Aceh hari ini bukan kekurangan sumber daya, tetapi hilangnya jati diri. Jika sejarah dilupakan dan budaya terkikis, Aceh bisa kehilangan marwahnya sendiri,” tulis Muhammad Rafsanjani, Selasa (12/5/2026).

Ia menegaskan, Islam bagi masyarakat Aceh bukan sekadar simbol atau identitas formal, melainkan ruh yang membentuk tata kehidupan sosial sejak era kesultanan. Karena itu, generasi muda Aceh diminta tidak hanya bangga terhadap sejarah, tetapi juga mampu mengaktualisasikan warisan intelektual para ulama dalam menghadapi tantangan modern.

Jika dahulu tokoh seperti Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf As-Singkili membangun peradaban melalui pendidikan dan karya intelektual, maka pemuda Aceh saat ini disebut harus mampu menguasai ruang digital, melawan hoaks, serta menciptakan inovasi berbasis teknologi dan nilai syariah.

Muhammad Rafsanjani juga menyoroti fungsi masjid yang dinilai harus dikembalikan sebagai pusat kebangkitan umat, bukan sekadar simbol religiusitas seremonial.

“Masjid jangan hanya megah secara bangunan, tetapi kosong dari gagasan dan pemberdayaan umat. Masjid harus hidup sebagai pusat diskusi, pendidikan, ekonomi, dan pembinaan moral generasi muda,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa bentuk “penjajahan” saat ini telah berubah. Jika dahulu Aceh melawan kolonialisme fisik, maka generasi muda hari ini menghadapi ancaman korupsi, narkoba, ketimpangan ekonomi, hingga ketergantungan digital yang dapat melemahkan daya saing daerah.

Dalam konteks identitas daerah, Muhammad Rafsanjani turut mendorong lahirnya simbol pemersatu yang mampu merepresentasikan marwah Kesultanan Aceh secara utuh. Ia menilai penguatan penggunaan Bendera Alam Peudeung dapat menjadi alternatif untuk mengakhiri polemik berkepanjangan terkait simbol daerah.

“Bendera Alam Peudeung merepresentasikan keberanian, kehormatan, nilai keislaman, dan persatuan rakyat Aceh tanpa harus terus terjebak dalam konflik tafsir politik,” katanya.

Ia pun menyerukan agar generasi muda Aceh tidak hanya sibuk mengenang kejayaan masa lalu, tetapi mulai membangun peradaban baru dengan kemampuan, integritas, dan penguasaan teknologi yang tetap berpijak pada identitas budaya dan syariat Islam.

“Sudah waktunya pemuda Aceh berhenti sekadar mengagumi kebesaran masa lalu. Yang dibutuhkan Aceh hari ini adalah generasi yang mampu membangun kejayaan baru dengan tangan mereka sendiri,” tutupnya.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru

Generasi Muda Aceh Diminta Jangan “Gadoh” | Monitor Indonesia