Bima, MI– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi mengusulkan kawasan Gunung Tambora menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark (UGGp).
Langkah ini menjadi upaya strategis untuk mengangkat status Tambora dari geopark nasional menjadi kawasan warisan geologi berkelas dunia sekaligus memperkuat daya saing pariwisata NTB di tingkat internasional.
General Manager Geopark Tambora, Makdis Sari, mengatakan usulan tersebut telah diajukan sejak Mei 2026. Saat ini kawasan Tambora masih menyandang status Geopark Nasional yang diperoleh pada 2017.
"Kawasan Tambora saat ini masih berstatus geopark nasional. Sejak Mei 2026, Pemprov NTB telah mengusulkannya menjadi UNESCO Global Geopark," ujar Makdis, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, pengakuan UNESCO bukan sekadar perubahan status, tetapi menjadi pintu masuk bagi peningkatan reputasi kawasan Gunung Tambora di mata dunia. Status tersebut diyakini akan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, memperkuat promosi destinasi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata.
Selain mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan, status UNESCO Global Geopark juga membuka peluang lebih besar bagi Tambora untuk menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga internasional, perguruan tinggi, hingga organisasi donor yang selama ini memberikan perhatian terhadap kawasan konservasi dan pengembangan geowisata.
"Geopark yang berada di bawah naungan UNESCO umumnya lebih diprioritaskan dalam berbagai bentuk kerja sama internasional, baik di bidang penelitian, konservasi, pendidikan maupun pengembangan ekonomi masyarakat," jelas Makdis.
Gunung Tambora yang membentang di wilayah Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling bersejarah di dunia. Kawasan ini memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, serta bentang alam yang menjadi daya tarik utama wisata alam di Nusa Tenggara Barat.
Pemerintah berharap pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark tidak hanya memperkuat posisi Tambora sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.**
