BREAKINGNEWS

Harga Ayam dan Telur Anjlok, Peternak Solo Raya Turun ke Jalan Mandi Telur

Harga Ayam dan Telur Anjlok, Peternak Solo Raya Turun ke Jalan Mandi Telur
Harga Ayam dan Telur Anjlok, Peternak Solo Raya Turun ke Jalan Mandi Telur

Solo, MI– Puluhan peternak ayam dan telur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Gladak, Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). 

Dengan membawa ayam hidup dan ribuan butir telur, mereka menyuarakan protes atas anjloknya harga ayam dan telur yang dinilai telah menghancurkan usaha peternak rakyat.

Aksi dimulai sekitar pukul 08.30 WIB dengan pertunjukan Reog Ponorogo sebagai pembuka. Setelah menyampaikan orasi, para peternak membagikan telur kepada pengguna jalan dan membagi-bagikan ayam hidup secara gratis kepada masyarakat. Sebagai simbol kekecewaan terhadap jatuhnya harga telur, sejumlah peternak bahkan mandi telur mentah di atas mobil bak terbuka.

Aksi tersebut menjadi bentuk protes keras terhadap kondisi usaha peternakan yang terus merugi akibat harga jual yang berada jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP), sementara biaya pakan justru terus meningkat.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, mengatakan peternak dari Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, hingga Solo turun ke jalan karena kondisi usaha mereka sudah berada di titik kritis.

"Keinginan teman-teman peternak Solo Raya menyampaikan aspirasi karena harga ayam maupun telur jatuh serendah-rendahnya. Harga ayam hidup hanya Rp13.000 per kilogram, sedangkan harga telur berkisar Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram," ujar Parjuni.

Ia mengungkapkan, kerugian yang dialami peternak sudah berlangsung sekitar dua bulan dan nilainya tidak sedikit.

"Peternak Solo Raya sudah dua bulan merugi dan kerugiannya tidak main-main, mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan untuk peternak skala besar saya yakin sudah mencapai miliaran rupiah," katanya.

Menurut Parjuni, anjloknya harga dipicu oleh kelebihan pasokan (over supply) yang tidak diimbangi dengan penyerapan pasar. Ia menilai kondisi tersebut seharusnya bisa diantisipasi pemerintah melalui pengendalian produksi berdasarkan kebutuhan nasional.

"Sebenarnya kebutuhan pasar sudah bisa diprediksi. Pemerintah seharusnya menjaga keseimbangan supply dan demand sehingga harga tetap berada di atas HPP. Hari ini HPP telur sekitar Rp23.000 per kilogram dan HAP Rp26.000, tetapi harga di kandang hanya Rp17.000. Ayam juga HPP-nya Rp19.500 sampai Rp20.000, sementara dijual hanya Rp13.000 per kilogram," jelasnya.

Selain harga jual yang terpuruk, para peternak mengaku semakin tertekan akibat harga bahan baku pakan yang terus meningkat sehingga biaya produksi melonjak.

Koordinator lapangan aksi, Chris Handrika Imanuel Raharjo, mengatakan para peternak membawa empat tuntutan utama kepada pemerintah. Mereka meminta pemerintah segera mengendalikan harga bahan baku pakan, menjaga harga ayam dan telur tetap berada di atas HPP, menyeimbangkan produksi dengan kebutuhan pasar, serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan Kementerian Pertanian.

Menurut para peternak, tanpa langkah konkret dari pemerintah, semakin banyak peternak rakyat yang terancam gulung tikar karena tidak mampu lagi menanggung kerugian akibat harga jual yang terus terpuruk.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Harga Ayam dan Telur Anjlok, Peternak Solo Raya Turun ke Jal | Monitor Indonesia