Ternate, MI - Akademisi Universitas Khairun Ternate, Dr. Mukhtar Adam, menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe. Ia menyebut tren pertumbuhan ekonomi daerah terus melemah dalam tiga kuartal terakhir dengan akumulasi penurunan mencapai 26,01 poin.
Mukhtar yang biasa disapa Om Pala ini mengungkapkan, sejak pergantian kepemimpinan daerah, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara menunjukkan tren menurun. Dari Kuartal III ke Kuartal IV tahun 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat turun sebesar 11,55 poin. Penurunan kemudian berlanjut dari Kuartal IV 2025 ke Kuartal I 2026 sebesar 10,17 poin, dan kembali melemah 4,28 poin pada Kuartal I ke Kuartal II 2026.
"Secara akumulatif, penurunan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara sepanjang periode 2025 hingga 2026 mencapai 26,01 poin," kata Mukhtar Adam pada rilis yang diterima Monitorindonesia.com, Sabtu (7/8/2026).
Menurutnya, perlambatan ekonomi Maluku Utara terjadi ketika tren ekonomi nasional justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dari 4,87 persen pada Kuartal I 2025 menjadi 5,61 persen pada Kuartal I 2026, menunjukkan adanya perbedaan arah pertumbuhan antara tingkat nasional dan daerah.
Mukhtar menilai kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Jika tidak direspons dengan langkah strategis, ia memprediksi perlambatan ekonomi daerah akan terus berlanjut hingga 2028 dan berpotensi menggeser posisi Maluku Utara sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia.
Ia menilai gejala perlambatan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi tekanan ekonomi global, kebijakan nasional, serta dinamika ekonomi domestik yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi di daerah.
Karena itu, Mukhtar meminta Gubernur Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe segera merumuskan ulang strategi pembangunan ekonomi daerah.
Menurutnya, diperlukan keberanian mengambil kebijakan yang lebih sistemik dengan memperkuat ekonomi lokal yang bertumpu pada sektor produksi rakyat agar pertumbuhan ekonomi kembali meningkat dan manfaatnya dirasakan lebih merata oleh masyarakat.
"Maluku Utara membutuhkan arah baru pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berbasis pada penguatan produksi rakyat agar tren perlambatan dapat dihentikan," tegasnya.
