Jawa Timur, MI— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, terus meluas. Hingga hari kesembilan sejak kebakaran pertama muncul pada Senin (3/8/2026), luas lahan terdampak telah mencapai sekitar 889 hektare.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini memasang target seluruh titik api dapat dikendalikan dan dipadamkan paling lambat Jumat (14/8/2026).
Target tersebut bukan tanpa alasan. BNPB ingin segera mengakhiri operasi besar-besaran di Bromo agar personel dan armada pemadaman dapat dialihkan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah lain yang juga terdampak.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan operasi pemadaman masih dilakukan melalui jalur darat dan udara secara bersamaan.
“Operasi pemadaman terus kita lakukan, baik melalui darat maupun udara. Kita berharap Jumat sudah bisa diselesaikan sehingga kekuatan yang ada bisa kita geser ke daerah lain yang juga mengalami kebakaran,” ujar Suharyanto, Selasa (11/8/2026).
Api Menjalar di Empat Kabupaten
Karhutla kini telah menjangkau empat kabupaten di sekitar kawasan Bromo, yakni Lumajang, Probolinggo, Malang, dan Pasuruan.
Sejumlah titik terdampak antara lain Blok Bantengan di Lumajang, Pundak Lembu dan P 30 di Probolinggo, kawasan Poncokusumo-Jemplang di Malang, serta Wonokitri di Pasuruan.
Ratusan personel gabungan terus dikerahkan untuk memutus jalur rambatan api dan melakukan pemadaman dari darat. Sekitar 800 personel diterjunkan secara bergantian.
Mereka terdiri dari unsur TNI, Polri, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), personel dari sejumlah taman nasional lain, relawan, hingga masyarakat setempat.
Namun, medan menjadi tantangan utama. Petugas harus menghadapi kawasan berbukit dan lereng dengan kemiringan ekstrem yang mencapai sekitar 80 derajat.
Kondisi tersebut membuat sejumlah titik api sulit dijangkau. Peralatan manual seperti gebyok juga masih terbatas sehingga proses pemadaman di beberapa lokasi berlangsung lebih lambat.
Tiga Helikopter Dikerahkan
Operasi udara menjadi salah satu tumpuan utama untuk menjangkau titik api yang berada di lereng dan perbukitan.
Sebanyak tiga helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing. Pesawat mengambil air dari sumber yang tersedia kemudian menjatuhkannya langsung ke kawasan yang terbakar.
Namun, strategi ini juga menghadapi kendala. Jarak sumber air dari lokasi kebakaran cukup jauh sehingga waktu operasional helikopter menjadi terbatas.
Sumber air yang digunakan antara lain berada di kawasan Ranu Pani dan Ranu Kumbolo. Helikopter harus bolak-balik mengambil air sebelum kembali menuju titik kebakaran.
BNPB juga telah menyiapkan sejumlah opsi tambahan untuk memperkuat operasi pemadaman udara, termasuk kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Kejar Jumat, Api Harus Terkendali
Kebakaran Bromo terjadi ketika kondisi sebagian wilayah Indonesia masih menghadapi cuaca kering yang meningkatkan risiko karhutla. Kondisi vegetasi yang kering membuat api lebih mudah merambat di kawasan perbukitan.
Karena itu, BNPB tidak hanya mengejar pemadaman api, tetapi juga melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Target Jumat menjadi tenggat penting bagi operasi Bromo. Jika seluruh titik api berhasil dikendalikan, personel dan armada yang selama sembilan hari terkonsentrasi di kawasan tersebut dapat segera digeser ke wilayah lain.**
