Pekanbaru, MI– Dunia konservasi Indonesia kehilangan salah satu penjaga terbaiknya. Gajah jinak Indro, yang selama 22 tahun menjadi andalan dalam penanganan konflik satwa-manusia di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, mati pada Minggu (28/6/2026) dini hari.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi para pawang dan pegiat konservasi setelah lebih dari dua dekade mengabdi menjaga kawasan hutan dan meredam konflik gajah liar dengan masyarakat.
Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, mengatakan Indro bukan sekadar gajah jinak, melainkan aset penting konservasi yang telah berkontribusi besar dalam berbagai operasi mitigasi konflik gajah di Riau sejak dipindahkan ke Tesso Nilo pada 2004.
"Ini merupakan duka yang sangat mendalam bagi dunia konservasi di Riau. Selama lebih dari dua dekade, Indro telah membantu kami menangani berbagai konflik antara gajah dan manusia," ujar Heru, Senin (29/6/2026).
Sebelum ditempatkan di TNTN, Indro berasal dari Pusat Latihan Gajah Minas setelah dievakuasi dari konflik dengan manusia. Sejak saat itu, ia menjadi bagian dari Elephant Flying Squad, unit khusus yang diterjunkan ke berbagai lokasi untuk menggiring kawanan gajah liar kembali ke habitatnya dan mencegah kerusakan kebun maupun permukiman warga.
Heru menjelaskan, Indro menjadi salah satu gajah paling berpengalaman di antara delapan gajah jinak yang dimiliki Flying Squad. Kini, setelah kematiannya, jumlah gajah operasional tersisa tujuh ekor.
Namun memasuki April 2026, kondisi Indro mulai berubah. Gajah jantan berusia 45 tahun itu memasuki fase must, yaitu periode alami ketika hormon reproduksi meningkat tajam sehingga perilakunya menjadi jauh lebih agresif.
Pada fase tersebut, Indro tidak lagi dapat didekati oleh pawangnya. Untuk menghindari risiko yang lebih besar, petugas Balai TNTN bersama Balai Besar KSDA Riau melakukan pembiusan pada 24 Juni guna memasang rantai pengaman tambahan.
Setelah tindakan tersebut, kondisi Indro sempat stabil. Namun nafsu makan dan minumnya terus menurun sehingga tim dokter hewan memberikan perawatan intensif, termasuk terapi cairan melalui infus.
"Kondisinya sempat membaik. Suhu tubuh normal dan mulai menunjukkan keinginan makan. Tetapi menjelang dini hari kesehatannya tiba-tiba menurun drastis," kata Heru.
Meski telah mendapat penanganan medis maksimal dari dokter hewan dan para mahout, Indro akhirnya mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 03.45 WIB.
Indro mati di usia 45 tahun, lebih muda dibandingkan rata-rata usia hidup gajah yang dapat mencapai sekitar 60 tahun.
Kepergian Indro menjadi kehilangan besar bagi upaya konservasi gajah Sumatera di Riau. Selama puluhan tahun, keberadaannya menjadi ujung tombak mitigasi konflik yang terus meningkat akibat menyusutnya habitat satwa liar.
Bagi para pawang dan pegiat konservasi, Indro bukan sekadar satwa binaan, melainkan simbol dedikasi panjang dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan kelestarian gajah Sumatera.**
