Bengkalis, MI – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Provinsi Riau. Sedikitnya 80,5 hektare lahan gambut di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, hangus terbakar.
Besarnya luasan area terdampak memaksa tim gabungan mengerahkan personel darat serta helikopter water bombing untuk mempercepat pengendalian api.
Lahan gambut yang terbakar menjadi tantangan tersendiri karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman jauh lebih sulit dibanding kebakaran di lahan mineral. Hingga kini, petugas masih melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Humas Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan empat regu pemadam langsung diterjunkan ke lokasi guna mencegah kebakaran meluas.
"Kita mengerahkan empat regu yang terdiri dari dua regu Daops Dumai, satu regu dari Pekanbaru, dan satu regu dari Siak," ujar Ferdian.
Selain operasi darat, Manggala Agni juga mengoperasikan satu unit helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses personel. Dukungan udara dinilai krusial mengingat luasnya area terbakar dan kondisi medan gambut yang menyulitkan proses pemadaman.
Ferdian menjelaskan, petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Material kering yang melimpah serta embusan angin cukup kencang pada siang hingga sore hari membuat api cepat menyebar sehingga pemadaman harus dilakukan secepat mungkin.
"Kondisi lokasi bahan bakar melimpah, angin siang hingga sore cukup kencang sehingga pemadam di beberapa lokasi harus dipercepat agar api tidak meluas," katanya.
Selain di Bengkalis, Manggala Agni juga menangani kebakaran di wilayah lain di Riau. Satu regu dari Daops Pekanbaru diterjunkan ke Desa Kasang Padang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, untuk memadamkan karhutla yang diperkirakan telah membakar sekitar 10 hektare lahan.
"Personel pemadam dari Daops Pekanbaru, estimasi luasan kurang lebih 10 hektare," lanjut Ferdian.
Petugas terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi lapangan karena angin kencang berpotensi memicu penyebaran api ke kawasan lain. Koordinasi lintas instansi juga terus diperkuat agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap lingkungan, kualitas udara, maupun aktivitas masyarakat.**
