Washington, MI— Antusiasme besar menjelang Piala Dunia FIFA 2026 dimanfaatkan para pelaku kejahatan siber untuk melancarkan penipuan digital berskala global. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau Federal Bureau of Investigation (FBI) mengungkap ratusan situs palsu yang meniru identitas FIFA mulai bermunculan demi mencuri uang dan data pribadi masyarakat.
Turnamen sepak bola terbesar dunia yang akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko disebut menjadi sasaran empuk para peretas.
“Aktor ancaman siber tersebut meluncurkan domain tiruan untuk mengelabui calon penonton melalui penjualan tiket palsu, paket perjalanan fiktif, hingga portal lowongan kerja bodong,” tulis laporan FBI.
Modus yang digunakan para pelaku terbilang licik. Mereka memakai teknik typosquatting, yakni membuat alamat situs dengan ejaan yang sangat mirip dengan situs resmi FIFA agar korban tidak sadar telah masuk ke laman palsu.
Contohnya seperti perubahan kecil pada nama domain menjadi “fiffa” atau penggunaan ekstensi alternatif seperti .xyz, .live, .sale hingga .org untuk meyakinkan korban.
Lewat situs jebakan tersebut, pelaku memburu data sensitif seperti nama lengkap, alamat rumah, email, nomor telepon, hingga data kartu kredit. Informasi itu kemudian berpotensi dipakai untuk pencurian identitas dan penipuan finansial.
Ancaman ini juga diperkuat temuan perusahaan keamanan siber Group-IB dan Bitdefender.
Group-IB mengungkap operasi siber bernama “Ghost Stadium” yang diduga dijalankan aktor ancaman asal China dengan mengoperasikan lebih dari 300 situs kloning FIFA untuk menjual tiket premium palsu.
Sementara Bitdefender menemukan maraknya iklan penipuan merchandise, streaming ilegal, hingga stiker koleksi palsu yang menyebar melalui Google Search, Facebook, Telegram, dan WhatsApp sejak Februari 2026.
FBI mengimbau masyarakat dunia lebih waspada sebelum membeli tiket maupun produk terkait Piala Dunia 2026 secara online.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain memasukkan alamat resmi FIFA secara manual, menyimpan tautan resmi yang terverifikasi, menghindari klik tautan mencurigakan, serta tidak sembarangan memasukkan data finansial sebelum memastikan situs benar-benar asli.
Masyarakat yang merasa menjadi korban juga diminta segera melapor ke pusat pengaduan kejahatan internet FBI agar situs penipuan dapat segera diblokir dan ditindak.**

