Las Vegas, MI– Dunia UFC kembali tertuju pada satu nama besar, Conor McGregor. Setelah lebih dari lima tahun menepi akibat cedera patah kaki yang mengerikan, mantan juara dua divisi itu akhirnya kembali ke oktagon dalam pertarungan yang telah lama dinantikan melawan Max Holloway di UFC 329.
Pertarungan yang digelar di T-Mobile Arena, Las Vegas, akhir pekan ini langsung menjadi sorotan global. Namun di balik euforia comeback tersebut, muncul satu pertanyaan besar yang terus menghantui: apakah McGregor masih petarung yang sama seperti saat mendominasi UFC satu dekade lalu?
Nama "The Notorious" memang masih mampu menarik perhatian jutaan penggemar. Namun banyak pihak menilai aura menakutkan yang dahulu melekat pada dirinya perlahan memudar seiring rentetan kontroversi dan absennya sang petarung dari arena dalam waktu yang sangat panjang.
Cedera parah yang dialaminya saat kalah dari Dustin Poirier pada 2021 menjadi titik balik karier McGregor. Patah tulang tibia dan fibula membuatnya harus menjalani masa pemulihan panjang yang penuh tantangan.
Selama proses rehabilitasi, McGregor juga sempat menjadi sorotan setelah muncul laporan yang mengaitkan dirinya dengan dugaan penggunaan zat peningkat performa. Meski tidak pernah terbukti melakukan pelanggaran resmi, isu tersebut semakin menambah kontroversi yang mengiringi perjalanan kariernya.
Kini, kembalinya McGregor ke UFC dinilai bukan hanya soal perebutan gelar juara. Banyak pengamat melihat duel melawan Holloway sebagai pertarungan bernilai bisnis raksasa yang dapat mendongkrak pendapatan UFC dan TKO Group Holdings.
Meski demikian, McGregor menegaskan dirinya tidak kembali untuk memperbaiki citra atau mencari simpati publik.
"Saya di sini bukan untuk merebut kembali hati siapa pun. Saya adalah siapa yang saya katakan. Saya adalah diri saya sendiri," tegas McGregor.
Jika dahulu McGregor dipuja sebagai pahlawan olahraga Irlandia, situasinya kini jauh berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya lebih sering menghiasi pemberitaan karena berbagai kontroversi dibanding prestasi di arena pertarungan.
Salah satu yang paling mengguncang adalah putusan dalam perkara perdata yang menyatakan McGregor bertanggung jawab dalam kasus yang melibatkan Nikita Hand terkait peristiwa pada 2018. Kasus tersebut menjadi pukulan besar terhadap reputasinya, terutama di Irlandia.
Tak hanya itu, sejumlah pernyataan politiknya mengenai isu imigrasi juga memicu kritik luas. Sikap keras yang beberapa kali ia sampaikan membuat sebagian publik menilai McGregor semakin jauh dari sosok inspiratif yang dulu dielu-elukan.
Meski citranya mengalami penurunan, satu hal yang tidak berubah adalah daya tarik komersialnya. Setiap kemunculan McGregor masih mampu mengundang perhatian dunia dan menciptakan gelombang antusiasme besar di kalangan penggemar UFC.
Kini, pertarungan melawan Max Holloway akan menjadi pembuktian terbesar dalam fase baru kariernya. Kemenangan bisa menjadi awal kebangkitan seorang legenda. Namun jika kembali gagal, publik mungkin semakin yakin bahwa era kejayaan Conor McGregor benar-benar telah berakhir.
Sabtu malam di Las Vegas bukan sekadar laga UFC biasa. Ini adalah pertaruhan reputasi, warisan, dan masa depan salah satu nama terbesar dalam sejarah olahraga tarung bebas.**
