Jakarta, MI – Persaingan ganda putri pada Kejuaraan Dunia BWF 2026 di New Delhi, India, dipastikan berlangsung sengit. China kembali menjadi kekuatan utama dengan tiga pasangan yang berpeluang besar merebut gelar, termasuk juara bertahan Liu Sheng Shu/Tan Ning.
Dominasi China di sektor ini bukan tanpa alasan. Negeri Tirai Bambu tercatat hanya tiga kali gagal meraih emas sejak sektor ganda putri dipertandingkan di Kejuaraan Dunia. Dalam empat edisi terakhir, gelar juara juga selalu menjadi milik China.
Namun, dominasi tersebut mendapat ancaman serius dari Jepang, Korea Selatan hingga Malaysia.
Liu Sheng Shu/Tan Ning menjadi pasangan yang paling disorot. Juara bertahan itu dikenal memiliki kekuatan fisik, permainan menyerang agresif, serta kemampuan menguasai seluruh area lapangan.
Usia keduanya yang masih relatif muda membuat Liu/Tan dinilai masih memiliki ruang besar untuk berkembang dan mempertahankan mahkota juara dunia.
China juga memiliki Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian serta Li Yi Jing/Luo Xu Min yang siap memperkuat ancaman terhadap para pesaing.
Jepang mencoba menghentikan dominasi China melalui Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto.
Fukushima sebelumnya tiga kali mencapai final Kejuaraan Dunia tetapi belum pernah merasakan gelar. Kini, pengalaman tersebut dipadukan dengan Matsumoto yang pernah dua kali menggagalkan Fukushima menjadi juara dunia ketika masih menjadi rival.
Performa mereka sepanjang 2026 juga cukup meyakinkan. Fukushima/Matsumoto berhasil menjuarai Indonesia Open dan menunjukkan konsistensi di berbagai turnamen.
Korea Selatan tidak ingin hanya menjadi penonton. Baek Ha Na/Lee So Hee menjadi salah satu pasangan yang berpotensi merusak ambisi China.
Meski belum meraih gelar dari dua final Super 1.000 musim ini, Baek/Lee tetap sulit disingkirkan. Mereka bahkan mampu mencapai semifinal China Open, turnamen World Tour terakhir sebelum Kejuaraan Dunia.
Korea Selatan juga mengandalkan Kim Hye Jeong/Kong Hee Yong. Comeback Kong setelah cedera langsung menghasilkan kejutan ketika mereka menjuarai Japan Open.
Kemenangan dramatis atas Jia Yi Fan/Zhang Shu Xian di final, termasuk gim penentuan yang berakhir 30-29, menjadi modal besar menuju New Delhi.
Jia Yi Fan memiliki misi pribadi yang tak kalah besar. Bersama Zhang Shu Xian, dia berpeluang merebut gelar dunia kelima.
Sebelumnya, Jia telah empat kali menjadi juara dunia ketika berpasangan dengan Chen Qing Chen. Jika kembali meraih emas pada 2026, Jia berpeluang mencatat sejarah sebagai pemain dengan koleksi gelar dunia terbanyak di satu kategori ganda.
Performa Jia/Zhang sepanjang musim juga cukup mengancam. Mereka mencapai empat final dan berhasil merebut gelar di Singapura serta Australia.
Di luar lima pasangan utama, Malaysia juga memiliki Pearly Tan/Thinaah Muralitharan yang berpotensi menjadi pengganggu serius.
Jepang memiliki Rin Iwanaga/Kie Nakanishi serta Rui Hirokami/Sayaka Hobara. Sementara tuan rumah India berharap Treesa Jolly/Gayatri Gopichand Pullela mampu memanfaatkan dukungan publik.
Amerika Serikat juga memiliki Lauren Lam/Allison Lee yang masuk radar persaingan.
Dengan tiga pasangan China berada dalam daftar kandidat kuat, pertarungan ganda putri di New Delhi bukan sekadar perebutan medali. Ini menjadi pertarungan untuk mematahkan atau memperpanjang hegemoni China di panggung dunia.
Kejuaraan Dunia BWF 2026 pun dipastikan menjadi ujian besar bagi para penantang untuk menghentikan dominasi China yang telah bertahan selama empat edisi terakhir.**
