10 Ribu Mahasiswa Diterjunkan ke Sumatera, Kemdiktisaintek Dorong Penerapan Teknologi Tepat Guna di Masyarakat

Jakarta, MI - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membantu masyarakat melalui penerapan sains dan teknologi tepat guna.
Salah satu langkah nyata dilakukan dengan mengirim lebih dari 10 ribu mahasiswa ke sejumlah wilayah di Sumatera untuk terlibat langsung dalam program pemberdayaan masyarakat dan pemulihan ekonomi daerah.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan program tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan inovasi dan teknologi yang dikembangkan di kampus agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
“Bagian pertama terkait program yang saat ini sedang berlangsung dan sangat bermanfaat adalah kami mengirimkan 10.090 mahasiswa ke Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program ini bertujuan menerapkan sains dan teknologi tepat guna serta mengimplementasikan inovasi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat,” ujar Fauzan, Jumat (13/3/2026).
Ia menjelaskan, kehadiran mahasiswa di lapangan tidak hanya berfokus pada transfer teknologi, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat di berbagai sektor penting.
“Program ini juga ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat, terutama dalam pemberdayaan di bidang pangan, kesehatan, termasuk aspek psikososial, energi, hingga energi terbarukan seperti PLTS. Beberapa mahasiswa bahkan membawa teknologi yang sedang dikembangkan di kampus untuk diterapkan di lapangan,” katanya.
Menurut Fauzan, saat ini wilayah tersebut juga sedang memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, sehingga kehadiran mahasiswa diharapkan turut membantu memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat.
“Sekarang kita memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Kehadiran lebih dari 10 ribu mahasiswa ini juga membantu mendorong peningkatan ekonomi, baik ekonomi hijau, ekonomi wilayah pesisir, maupun ekonomi kreatif, sehingga masyarakat dapat kembali bangkit secara ekonomi,” jelasnya.
Dari total 10.090 mahasiswa yang diterjunkan, sebagian besar ditempatkan di Provinsi Aceh.
“Sebaran mahasiswa di lapangan saat ini mayoritas berada di Aceh sekitar 5.040 orang, kemudian di Sumatera Barat sekitar 2.500 orang, dan di Sumatera Utara sekitar 2.500 orang. Di Aceh sendiri, yang paling banyak berada di Kabupaten Pidie sekitar 1.620 mahasiswa,” ungkap Fauzan.
Ia menambahkan, kontribusi mahasiswa di lapangan sangat beragam, mulai dari membantu aktivitas masyarakat sehari-hari hingga terlibat dalam kegiatan yang bersifat ilmiah.
“Mahasiswa membantu berbagai hal, mulai dari yang sederhana seperti membantu masyarakat kembali beraktivitas normal, hingga kegiatan yang bersifat saintifik seperti membantu di rumah sakit daerah maupun di sekolah-sekolah yang terdampak,” ujarnya.
Fauzan menyebutkan sejumlah bidang utama yang menjadi fokus kegiatan mahasiswa di lapangan, antara lain penyediaan air bersih, sanitasi, kesehatan masyarakat, energi, komunikasi, infrastruktur, hingga pendidikan darurat dan sistem manajemen bencana.
Selain program di Sumatera, Kemdiktisaintek juga menjalankan berbagai inisiatif riset dan pengembangan di wilayah lain, termasuk pembangunan konsorsium perguruan tinggi di Indonesia Timur untuk mengatasi kemiskinan ekstrem dan stunting.
“Kami memulai program konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur yang melibatkan 13 perguruan tinggi, termasuk Universitas Brawijaya dan Universitas Muhammadiyah Malang. Program ini bertujuan merumuskan solusi konkret di bidang pangan, kesehatan, budaya, pendidikan, hingga ekonomi,” katanya.
Hasil evaluasi awal menunjukkan sejumlah capaian positif di lapangan. Salah satunya peningkatan produktivitas pertanian di beberapa wilayah.
“Sebagai contoh, produktivitas padi di Nagakeo setelah intervensi program meningkat hingga 8,4 ton per hektare, sementara rata-rata nasional sekitar 6 ton per hektare. Produksi jagung juga meningkat menjadi sekitar 6 ton per hektare,” jelasnya.
Di sisi lain, Kemdiktisaintek juga aktif mendukung program strategis nasional, termasuk penanganan sampah terpadu berbasis teknologi dan edukasi masyarakat.
“Sekitar 40 hingga 50 persen sampah di Indonesia adalah sampah organik. Karena itu kami mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Jika pemilahan dilakukan dengan baik, maka sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau produk lain sehingga tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir,” tegasnya.
Topik:
