TKA SMP Berjalan Lancar, Hasilnya Jadi Rujukan Peningkatan Mutu Pendidikan
.webp)
Bekasi, MI - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP sederajat berjalan relatif lancar tanpa kendala berarti. Pemerintah memastikan hasil asesmen ini tidak hanya menjadi alat ukur capaian siswa, tetapi juga menjadi dasar penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, mengatakan bahwa TKA dirancang untuk menghasilkan gambaran menyeluruh tentang mutu pendidikan.
“Di samping itu juga kami sekaligus bisa mendapatkan data tentang kualitas pendidikan ini cukup komprehensif, karena ada literasi, numerasi, survei karakter, dan juga survei lingkungan belajar, selain daripada TKA,” ujarnya dalam jumpa pers di Hotel Four Points, Bekasi, Selasa malam (7/4/2026).
Ia mengungkapkan, pelaksanaan TKA selama dua hari terakhir berjalan tanpa hambatan signifikan. Meski demikian, terdapat beberapa kendala teknis di lapangan seperti banjir dan pemadaman listrik.
“Alhamdulillah tidak ada kendala dalam dua hari ini. Walaupun ada mungkin karena bencana banjir, dan juga ada mati listrik di beberapa tempat. Dan itu sudah kami pindahkan ke jadwal susulan,” jelasnya.
Terkait durasi ujian, Toni menegaskan bahwa waktu yang diberikan telah melalui kajian matang. “Tentang waktu ujian sudah kami kaji, sudah kami analisis, sudah kami try out. Jadi 75 menit ini adalah waktu ideal untuk mengerjakan matematika dan numerasi serta bahasa Indonesia dan literasi,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap data hasil TKA dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah daerah dan satuan pendidikan.
“Ke depan, harapannya tentu hasil dari data yang komprehensif ini bisa digunakan oleh satuan pendidikan maupun pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas, terutama pembelajaran di setiap satuan pendidikan,” tuturnya.
Toni juga memastikan bahwa hasil TKA nantinya akan langsung disampaikan ke pemerintah daerah sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Terkait potensi pelanggaran selama ujian, pihaknya menerapkan mekanisme penilaian bertingkat. Setiap pelanggaran akan dicatat dan dianalisis sebelum diputuskan sanksinya.
“Kita selalu mencatat semua peristiwa yang ada di setiap kelas dan nanti kita lihat sesuai ketetapan, apakah pelanggarannya ringan, sedang, atau berat. Jadi ada tindak lanjut dari berita acara yang disampaikan oleh setiap ruang kelas ujian,” ujarnya.
Ia menegaskan, sanksi tidak diberikan secara otomatis, melainkan melalui proses kajian yang melibatkan inspektorat jenderal. “Untuk siswa juga sama, ada leveling. Kita lihat nanti pelanggarannya seperti apa,” tambahnya.
Adapun bentuk pelanggaran yang ditemukan sejauh ini tergolong ringan, seperti pengawas yang merokok atau peserta yang membuat video untuk diri sendiri tanpa menyorot soal ujian.
Di sisi lain, TKA juga sempat menuai keluhan dari sebagian siswa, terutama terkait tingkat kesulitan soal matematika. Namun, pemerintah menilai hal tersebut wajar karena desain soal memang ditujukan untuk mengukur kemampuan berpikir, bukan sekadar hafalan.
“TKA ini memang dirancang bukan sekadar menguji hafalan, tetapi juga mengukur kemampuan berpikir dan penalaran, khususnya di numerasi dan literasi,” jelasnya.
Menurutnya, soal-soal yang diberikan telah melalui proses akademis yang ketat dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Komposisinya pun berimbang, mencakup kemampuan mengetahui (knowing), menerapkan (applying), hingga bernalar (reasoning).
“Bukan untuk menjebak, tetapi untuk mengungkap kemampuan berpikir siswa secara lebih mendalam,” tegas Toni.
Ia menambahkan, konteks soal yang berbeda dari simulasi seringkali menjadi penyebab siswa merasa kesulitan, meski konsep yang diujikan tetap sama.
Selain itu, tingkat partisipasi peserta TKA secara nasional tergolong tinggi. Bahkan di daerah terdampak bencana, angka keikutsertaan tetap mencapai lebih dari 98 persen.
“Secara umum tingkat hadir dan menyelesaikan itu 98,3 persen. Artinya yang terkendala hanya sekitar 1,7 persen, itu pun tidak semuanya karena faktor teknis, bisa juga karena sakit atau halangan lain,” ungkapnya.
Ke depan, hasil TKA juga akan dimanfaatkan sebagai salah satu komponen dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya pada jalur prestasi.
Dengan demikian, pemerintah berharap TKA tidak hanya menjadi instrumen evaluasi, tetapi juga mendorong transformasi pembelajaran agar lebih berorientasi pada kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Topik:
