Kampus Diminta Lebih Fleksibel, Mendiktisaintek: Dosen Bisa WFH Sehari, Kuliah Hybrid Diperluas
.webp)
Jakarta, MI - Pemerintah mulai mendorong perubahan budaya kerja di perguruan tinggi sebagai respons atas ancaman krisis global sekaligus upaya efisiensi energi nasional. Skema kerja fleksibel, digitalisasi layanan, hingga perluasan pembelajaran jarak jauh (PJJ) kini menjadi arah baru yang ditawarkan kepada kampus.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 2 Tahun 2026 yang mengatur penyesuaian pola kerja di lingkungan kementerian dan aktivitas akademik di perguruan tinggi.
Menurut Brian, kebijakan ini bukan sekadar efisiensi administratif, tetapi juga langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global yang berpotensi berkepanjangan.
“Ini juga tentu sebagai antisipasi jika nantinya krisis dunia itu berkepanjangan. Karena kemarin kita juga sudah mendapatkan analisis bahwa bukan tidak mungkin krisis ini menyamai krisis saat pandemi COVID-19,” ujarnya dalam acara halalbihalal di Jakarta, Senin pagi, (6/4/2026).
Meski mendorong fleksibilitas, ia menegaskan kualitas pembelajaran tidak boleh dikorbankan. “Kita pastikan kebijakan ini tidak sampai mengganggu atau menurunkan kualitas proses belajar mengajar,” katanya.
Salah satu poin utama dalam kebijakan ini adalah dorongan pemberian jatah work from home (WFH) bagi dosen dan tenaga kependidikan (tendik) selama satu hari dalam sepekan.
“Kita mendorong kampus melakukan evaluasi, sehingga tendik bisa mendapatkan satu hari WFH dalam satu minggu,” jelas Brian.
Untuk mendukung hal tersebut, kampus diminta menata ulang jadwal mengajar dosen agar lebih terkonsentrasi dalam beberapa hari tertentu.
“Kalau bisa, jadwal dosen dikumpulkan di hari-hari tertentu. Misalnya Senin sampai Kamis mengajar penuh, sehingga Jumat bisa bekerja dari rumah,” ujarnya.
Ia bahkan mencontohkan pengalaman pribadinya saat menjadi dosen yang harus datang ke kampus hanya untuk mengajar beberapa jam dalam sehari, yang dinilai tidak efisien.
Dalam SE tersebut, perguruan tinggi juga diimbau menerapkan PJJ secara proporsional, terutama untuk mahasiswa semester lima ke atas dan program pascasarjana.
Namun, kebijakan ini tidak berlaku untuk mata kuliah yang membutuhkan praktik langsung.
“Kampus dan program studi yang paling tahu mana mata kuliah yang bisa dilakukan secara PJJ atau hybrid, dan mana yang harus tetap tatap muka, seperti praktikum atau perhitungan intensif,” terang Brian.
Ia menambahkan, pengalaman selama pandemi menjadi pelajaran penting bahwa digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi.
“Dulu banyak pengajuan masih pakai kertas, sekarang dengan digital jauh lebih efisien. Ini momentum untuk memperkuat itu,” ucapnya.
Selain pembelajaran, transformasi juga menyasar layanan administrasi kampus. Seluruh aktivitas akademik, mulai dari bimbingan skripsi hingga rapat, didorong beralih ke platform digital.
“Kalau budaya kerja kita efektif, pada akhirnya menguntungkan semua pihak. Pengeluaran lebih efisien, proses lebih cepat,” kata Brian.
Di sisi lain, ia juga mendorong perubahan gaya hidup sivitas akademika agar lebih ramah lingkungan.
“Harapan kami mobilitas yang lebih sehat bisa mulai terbiasa, misalnya dengan bersepeda atau menggunakan sepeda listrik, seperti yang sudah lazim di luar negeri,” ujarnya.
Dalam menghadapi potensi krisis global, Kemendiktisaintek juga menyiapkan langkah strategis melalui riset dan penguatan sumber daya manusia.
“Kami mendukung program efisiensi pemerintah, termasuk melalui riset pembangkit listrik tenaga surya bersama BRIN dan KKP,” ungkap Brian.
Ia menegaskan, langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini agar sektor pendidikan tinggi tidak terdampak signifikan jika krisis kembali terjadi.
“Ini harus kita antisipasi, karena bisa saja krisis berlangsung lama seperti saat pandemi COVID-19,” katanya.
Sebagai bagian dari implementasi kebijakan, pimpinan perguruan tinggi diminta melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan kualitas layanan pendidikan tetap terjaga dan capaian pembelajaran mahasiswa tidak menurun.
Topik:
