BREAKINGNEWS

Lulusan Tak Terserap, Prodi Tak Sesuai Industri Terancam Ditutup

Lulusan Tak Terserap, Prodi Tak Sesuai Industri Terancam Ditutup
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) (Foto: Dok Kemendiktisaintek)

Jakarta, MI - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berencana mengevaluasi program studi (prodi) di perguruan tinggi agar lebih selaras dengan kebutuhan industri.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukonco, mengungkapkan masih cukup banyak lulusan prodi yang belum terserap di dunia kerja. Karena itu, penataan ulang dinilai perlu dilakukan agar lulusan memiliki peluang kerja yang lebih besar.

Ia menyebut, prodi yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan saat ini bahkan berpotensi ditutup.

"Dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi ini gitu," kata Badri melalui channel YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Senin (27/4/2026).

Selain itu, kajian tersebut juga akan mengidentifikasi prodi yang dibutuhkan dunia kerja di masa depan. "Sebenarnya yang dibutuhkan itu prodi apa ke depan, itu yang akan kita coba susun nanti bersama," ungkapnya.

Badri mengharapkan dukungan dari Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK) terkait kajian tersebut. 

Ia menegaskan, manfaat bonus demografi tidak akan terserap secara maksimal apabila pendidikan tinggi tak memfasilitasi agar lulusannya relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, hal ini penting agar target pertumbuhan ekonomi tercapai.

"Memang saat ini bonus demografi digaungkan di mana-mana, tapi kalau pendidikan tinggi yang diharapkan bisa mengantar untuk kita menjadi negara maju itu tidak kita sesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi ke masa depan, tentunya akan tidak match gitu," jelasnya.

Ia menyebut, banyak perguruan tinggi di Indonesia menganut market driven strategy atau pendekatan bisnis yang menempatkan kebutuhan pasar sebagai pusat operasional dan pengambilan keputusan. Akibatnya, jumlah lulusan di bidang tertentu justru berlebihan dan tidak terserap dengan baik di dunia kerja.

"Market driven itu apa? Yang lagi lari siapa dibuka gitu prodinya gitu. Kemudian oversupply di situ gitu," pungkasnya. 

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru