BREAKINGNEWS

Kelola Dana Abadi Rp181 Triliun, LPDP Fokus Cetak Talenta STEM dan Perkuat Riset Nasional

Kelola Dana Abadi Rp181 Triliun, LPDP Fokus Cetak Talenta STEM dan Perkuat Riset Nasional
Direktur Utama LPDP Kemenkeu Yon Arsal (Foto. Rizal Siregar)

Jakarta, MI -  Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) terus memperkuat perannya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Selain mengumumkan pembukaan pendaftaran beasiswa tahap kedua, LPDP juga memperkenalkan sejumlah perubahan kebijakan yang dinilai cukup signifikan.

Direktur Utama LPDP Kementerian Keuangan, Yon Arsal, mengatakan penguatan kualitas SDM menjadi syarat utama agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

"Indonesia saat ini berada di peringkat ke-17 ekonomi dunia. Target kita pada Indonesia Emas 2045 adalah masuk peringkat empat atau lima dunia. Untuk mencapai target itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu kunci utama, dan LPDP ingin memberikan kontribusi nyata melalui pembangunan talenta unggul," ujar Yon, di Ruang RR. Soegito S.I, Gd. Djuanda II Lt.1, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin Sore, (29/6/2026).

Menurutnya, pembangunan SDM harus dilakukan secara seimbang antara bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan bidang Social Sciences, Humanities, Arts, Religion, and Education (SHARE). Keduanya menjadi bagian penting dalam ekosistem talenta nasional.

Yon menjelaskan, arah kebijakan LPDP juga akan diselaraskan dengan delapan sektor strategis yang menjadi prioritas pemerintah, yakni energi, pertahanan, digitalisasi, hilirisasi, kesehatan, pangan, maritim, serta material dan manufaktur. Fokus tersebut akan diterapkan baik pada program beasiswa maupun pendanaan riset.

Hingga 31 Mei 2026, LPDP mengelola dana abadi sebesar Rp181 triliun. Dana tersebut terdiri atas Dana Abadi Pendidikan dan Dana Abadi Pesantren sekitar Rp148 triliun, Dana Abadi Sekolah Unggulan Garuda Rp1,7 triliun, Dana Abadi Penelitian Rp14 triliun, Dana Abadi Perguruan Tinggi Rp11 triliun, serta Dana Abadi Kebudayaan Rp6 triliun.

Yon menegaskan, dana pokok tersebut tidak digunakan untuk membiayai program LPDP. Yang dimanfaatkan adalah hasil investasi dari dana abadi tersebut.

"Yang kita gunakan bukan dana abadinya. Dana pokok tetap dijaga dan diinvestasikan agar menghasilkan imbal hasil yang optimal. Semakin besar hasil investasinya, semakin banyak mahasiswa yang bisa kita biayai, semakin banyak riset yang dapat dilakukan, dan semakin luas pula dukungan terhadap program kebudayaan," jelasnya.

Dengan dana kelolaan sekitar Rp181 triliun dan tingkat imbal hasil sekitar 6-7 persen, LPDP mampu memperoleh hasil investasi sekitar Rp12-13 triliun setiap tahun untuk mendanai berbagai program.

Meski demikian, Yon menilai nilai dana abadi Indonesia masih relatif kecil dibandingkan lembaga-lembaga pendidikan kelas dunia seperti Harvard maupun Stanford yang memiliki dana abadi hingga puluhan miliar dolar Amerika Serikat.

Di bidang beasiswa, LPDP bersama Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Agama telah mendanai 98.409 penerima beasiswa hingga Mei 2026. Setelah ditambah penerima beasiswa gelombang pertama tahun ini, jumlah tersebut telah melampaui 100 ribu penerima.

"Alhamdulillah, tahun ini kita berhasil melewati tonggak sejarah dengan mengirim lebih dari 100 ribu penerima beasiswa dari dana LPDP dan program kolaborasi," katanya.

Untuk penerima beasiswa LPDP murni, jumlahnya mencapai 58.749 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 37 ribu telah menyelesaikan studi dan menjadi alumni yang kini bekerja di berbagai sektor, terutama pendidikan, penelitian, pemerintahan, serta sektor swasta.

Yon menambahkan, minat masyarakat terhadap beasiswa LPDP terus meningkat. Pada 2025 jumlah pendaftar mencapai sekitar 79 ribu orang, sedangkan pada seleksi tahap pertama 2026 tercatat 32.794 pelamar.

Ke depan, LPDP akan semakin memperbesar kuota penerima beasiswa di bidang STEM. Sekitar 80 persen penerima beasiswa akan diarahkan pada bidang STEM dan STEM Related, sementara maksimal 20 persen dialokasikan untuk bidang SHARE.

"Kita melihat kebutuhan Indonesia ke depan sangat besar di bidang STEM. Karena itu sekitar 80 persen beasiswa akan kita arahkan ke STEM dan bidang-bidang terkait, sedangkan sekitar 20 persen untuk bidang non-STEM. Tujuannya agar Indonesia memiliki SDM yang mampu bersaing secara global dan mendukung target Indonesia Emas 2045," ujar Yon.

Selain memperluas beasiswa reguler, LPDP juga terus mengembangkan skema co-funding bersama berbagai universitas unggulan dunia. Skema tersebut memungkinkan pembiayaan pendidikan dibagi antara LPDP, perguruan tinggi, maupun pemerintah negara mitra sehingga biaya menjadi lebih efisien dan jumlah penerima beasiswa dapat terus ditingkatkan tanpa mengurangi kualitas pendidikan.

 

Topik:

Rizal Siregar

Penulis

Video Terbaru

LPDP Kelola Dana Abadi Rp181 Triliun | Monitor Indonesia