Jakarta, MI – Pemerintah menginvestigasi kemunculan sebuah makalah ilmiah yang viral di media sosial karena mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai penulis pendamping (co-author) dan mengklaim Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk nominasi Nobel Perdamaian 2026.
Makalah berjudul "Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by The National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia's Economic Growth" itu diunggah ke platform Social Science Research Network (SSRN). Selain memuji program MBG, dokumen tersebut juga menyebut program itu layak diusulkan sebagai kandidat Nobel Perdamaian.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, mengatakan pemerintah tengah menelusuri keaslian dokumen, termasuk dugaan pencatutan nama Presiden Prabowo.
"Ini lagi diinvestigasi," kata Qodari.
Penyelidikan serupa juga dilakukan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) setelah ditemukan lampiran surat yang mengatasnamakan kementerian tersebut di dalam dokumen.
Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Benni Irawan menegaskan pihaknya sedang memastikan apakah dokumen dan surat yang beredar benar berasal dari Kemendagri atau hanya mencatut identitas lembaga.
"Sekarang lagi diklarifikasi, apakah itu memang Kemendagri secara kelembagaan atau bagaimana. Kemudian apakah surat yang disampaikan itu benar dari Kemendagri atau apa, kita pastikan dulu," ujar Benni.
Kemendagri juga telah berkoordinasi dengan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) setelah nama institusi tersebut muncul dalam dokumen. Hasil klarifikasi sementara menyebut IPDN tidak terkait dengan penyusunan paper tersebut.
Viralnya makalah itu memicu penelusuran warganet. Sejumlah akun media sosial menemukan puluhan paper lain di SSRN yang juga mencantumkan nama Presiden Prabowo sebagai penulis atau co-author dengan berbagai tema, mulai dari MBG, kecerdasan buatan (AI), haji, pesantren, pertahanan luar angkasa, perang dunia, hingga isu nuklir. Bahkan, beberapa paper turut mencantumkan nama Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai penulis pendamping.
Sejumlah warganet menduga nama Prabowo maupun Macron dicantumkan tanpa sepengetahuan keduanya. Dugaan pencatutan itu menguat setelah ditemukan pola kemunculan nama penulis yang sama di berbagai paper.
Nama yang paling banyak disorot adalah Dian Damayanti, yang tercatat sebagai penulis utama di banyak dokumen tersebut. Warganet juga mempertanyakan penggunaan gelar akademik dan afiliasi yang dicantumkan dalam sejumlah publikasi, termasuk klaim sebagai profesor serta keterkaitan dengan beberapa institusi pendidikan dan organisasi internasional.
Selain itu, dokumen yang beredar disebut turut melampirkan surat pendukung, bukti pengiriman berkas ke Oslo, Norwegia, serta dokumen pengajuan nominasi Nobel. Seluruh lampiran tersebut kini menjadi bagian dari materi yang sedang diverifikasi pemerintah.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Istana maupun Presiden Prabowo terkait pencantuman namanya dalam paper tersebut. Pemerintah menegaskan investigasi masih berlangsung untuk memastikan keaslian dokumen, identitas penyusun, serta motif di balik penyebaran makalah yang menjadi perhatian publik itu.**
