Jakarta, MI – Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengevaluasi bahkan mencopot para pembantunya yang dinilai memiliki komunikasi publik buruk dan justru memperburuk citra pemerintahan di mata masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Fernando kepada Monitorindonesia.com, Selasa (21/7/2026), menyusul polemik yang melibatkan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, yang menuai sorotan usai menyebut jas almamater Universitas Indonesia sebagai "daster kuning" melalui akun media sosial pribadinya.
Menurut Fernando, cara merespons kritik yang dilakukan sejumlah pembantu Presiden belakangan ini bukan meredam polemik, melainkan memperbesar kemarahan publik dan membangun persepsi negatif terhadap pemerintahan Prabowo.
"Satu per satu pembantu Presiden seolah mempertontonkan kualitas komunikasi mereka saat menghadapi kritik. Bukannya memperbaiki situasi, justru memperburuk keadaan dan membuat persepsi publik terhadap pemerintah semakin negatif," kata Fernando.
Ia menilai pernyataan yang dilontarkan Ulta Levenia Nababan mencerminkan komunikasi yang tidak pantas dari seorang pejabat yang berada di lingkaran Istana.
"Betapa buruknya komunikasi yang dilakukan hingga terkesan merendahkan pihak yang menyampaikan kritik, termasuk institusi pendidikan tempat mahasiswa tersebut menempuh kuliah," ujarnya.
Fernando menegaskan Presiden Prabowo tidak boleh ragu mengambil tindakan tegas terhadap pembantunya yang justru menjadi beban politik bagi pemerintah.
"Prabowo harus segera menyingkirkan para pembantunya yang membuat citra pemerintahannya semakin buruk. Tidak perlu ragu mencopot mereka, meskipun berasal dari tim pemenangan atau relawan saat Pemilu," tegasnya.
Ia mengingatkan, pola komunikasi yang agresif dan defensif terhadap kritik berpotensi mengikis kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
"Saya ragu Presiden Prabowo mampu menjaga kepercayaan publik hingga akhir masa jabatannya pada 2029 apabila masih mempertahankan orang-orang yang setiap menghadapi kritik justru memilih menyerang," ucap Fernando.
Fernando juga mempertanyakan kesungguhan para pembantu Presiden dalam mendukung pemerintahan apabila pola komunikasi yang dibangun justru terus menimbulkan kegaduhan.
"Kalau kesan yang dibangun selalu negatif, masyarakat akan semakin jenuh. Keputusan ada di tangan Presiden Prabowo. Jika ingin memperbaiki persepsi publik, segera lakukan evaluasi dan pencopotan terhadap pembantu yang komunikasinya terus membuat gaduh," pungkasnya.
