BREAKINGNEWS

Anwar Rosyid Wafat, Dunia Kartun Indonesia Kehilangan Maestro Humor Perenungan

Anwar Rosyid Wafat, Dunia Kartun Indonesia Kehilangan Maestro Humor Perenungan
Almarhum Anwar Rosyid saat menggelar pameran tunggal bertajuk “Telat Ngguyu” di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia No. 47, Jakarta Pusat, pada tahun 2023. Saat itu, Rosyid menampilkan karya-karya kartun kontemplatif yang sarat humor, imajinasi, dan perenungan khas dirinya. (Foto: Istimewa)

Yogyakarta, MI — Dunia kartun Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Anwar Rosyid, kartunis senior asal Yogyakarta yang dikenal lewat karya-karya kontemplatif penuh imajinasi, wafat pada 7 Mei 2026 dalam usia 75 tahun.

Rosyid dikenal luas sebagai sosok penting di balik denyut kreativitas komunitas kartunis Yogyakarta. Bersama rekan-rekannya, ia mendirikan “Pakyo” atau Paguyuban Kartunis Yogyakarta pada 1977, sebuah komunitas yang kelak melahirkan banyak kartunis besar Indonesia.

Meski merupakan lulusan Fakultas Geologi UPN Yogyakarta, jalan hidup membawanya ke dunia gambar dan humor visual. Sejak era 1980-an, karya-karya Rosyid rutin menghiasi berbagai media nasional seperti majalah Intisari, Stop, Mutiara hingga harian Sinar Harapan. Di tengah dominasi ilustrasi hitam-putih kala itu, ide-ide Rosyid tampil berbeda: absurd, sunyi, namun menggigit akal sehat.

Ia kemudian bergabung di ruang redaksi Sinar Harapan yang kemudian menjadi Suara Pembaruan sebagai layouter. Di sanalah Rosyid dikenal sebagai pekerja keras yang disiplin, rajin lembur, dan nyaris tak pernah kehilangan semangat berkarya.

Kartunis senior Gatot Eko Cahyono mengenang Rosyid sebagai pribadi sederhana, pendiam, namun pikirannya tak pernah berhenti bergerak. Di balik suaranya yang lirih dan sikapnya yang kalem, tersimpan imajinasi liar yang mampu mengubah peristiwa sehari-hari menjadi humor penuh renungan.

“Rosyid adalah sosok ‘PendeKARTUN’ kontemplatif. Penonton tidak langsung tertawa ketika melihat karyanya. Mereka diajak berpikir, menyelam lebih dulu ke dalam makna,” tulis Gatot dalam catatan mengenangnya, Jumat (15/5/2026).

Kekuatan Rosyid memang terletak pada cara ia memelintir logika menjadi humor sunyi. Dalam salah satu kartunnya, seekor gajah berjalan melewati toko seni Bali hingga kedua gadingnya berubah penuh ukiran artistik. Dalam karya lain, seekor jerapah menyeberangi sungai yang terlalu dalam dan baru sadar tubuhnya tinggal tulang setelah tiba di seberang. Sederhana, absurd, namun menyimpan lapisan tafsir yang dalam.

Karya-karyanya mencapai fase matang dalam pameran tunggal bertajuk “Telat Ngguyu”, yang digagas Chryshnanda Dwilaksana beberapa tahun silam. Melalui medium akrilik penuh warna, Rosyid menghadirkan humor yang tidak meledak-ledak, melainkan perlahan mengetuk kesadaran.

Setelah pensiun dari Suara Pembaruan sekitar 2015, Rosyid menjalani hari-hari senjanya di Bojonggede, Bogor. Namun sejak sang istri wafat lebih dulu, kondisi kesehatannya perlahan menurun. Pada Februari 2026 ia sempat terjatuh di rumahnya. Kondisinya terus melemah hingga akhirnya dibawa pulang ke rumah orang tuanya di Baciro, Yogyakarta, untuk menjalani perawatan.

Meski tubuhnya melemah dan tangan kirinya lumpuh, Rosyid disebut masih menyimpan senyum dan kegemaran bercanda ketika dijenguk sahabat-sahabatnya.

Kini, sang kartunis telah pergi. Namun karya-karya dan jejak pemikirannya tetap hidup sebagai pengingat bahwa humor terbaik bukan sekadar membuat orang tertawa, melainkan membuat manusia merenung tentang hidupnya sendiri.

Selamat jalan, Rosyid.
Tawa sunyimu akan tetap hidup dalam sejarah kartun Indonesia.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru

Anwar Rosyid Wafat, Dunia Kartun Indonesia Kehilangan... | Monitor Indonesia