BREAKINGNEWS

Rugi Waskita Naik Jadi Rp3,9 Triliun di 2025, Aset Ikut Turun

Rugi Waskita Naik Jadi Rp3,9 Triliun di 2025, Aset Ikut Turun
Gedung PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat kerugian yang semakin besar sepanjang tahun 2025, bila dibandikan kerugian yang ditanggung pada tahun 2024. 

Berdasarkan laporan keuangan terbaru perseroan yang dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Jumat (3/4/2026), rugi bersih Waskita mencapai Rp3,92 triliun, meningkat sekitar 51,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp2,58 triliun.

Akibatnya, kerugian per saham ikut meningkat menjadi Rp136,38 di 2025, dari sebelumnya Rp89,89 pada 2024.

Membengkaknya kerugian ini salah satunya dipicu oleh penurunan pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan Waskita turun 17,63 persen menjadi Rp8,81 triliun, dari porsi Rp10,7 triliun di 2024.

Sebagian besar pendapatan masih berasal dari bisnis jasa konstruksi dengan kontribusi Rp6,76 triliun. Sementara itu, pendapatan dari jalan tol mencapai Rp1,15 triliun, diikuti penjualan precast Rp682,72 miliar dan sektor perhotelan Rp103,03 miliar. Sisanya berasal dari bisnis properti, infrastruktur, serta sewa gedung dan peralatan dengan nilai yang lebih kecil.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan memang mengalami penurunan menjadi Rp7,23 triliun dari sebelumnya Rp9,28 triliun. Hal ini membuat laba kotor perusahaan justru naik menjadi Rp1,57 triliun, dari porsi sebelumya Rp1,41 triliun.

Namun, peningkatan berbagai beban lain membuat kondisi keuangan tetap tertekan. Beban lain-lain melonjak signifikan, begitu juga dengan beban pajak. Selain itu, kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga menurun cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset Waskita tercatat turun menjadi Rp70,73 triliun, dari porsi Rp77,15 triliun di 2024. Dengan porsi liabilitas dan ekuitas yang juga menurun masing-masing menjadi Rp67,06 triliun dan Rp3,67 triliun.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Rugi Waskita Bengkak Jadi Rp3,9 Triliun di 2025 | Monitor Indonesia