Jakarta, MI - Kinerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam satu dekade terakhir dinilai bukan sekadar terdampak siklus bisnis, melainkan mencerminkan kegagalan model usaha yang berulang.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menyebut persoalan utama Garuda Indonesia tidak hanya terletak pada tingginya biaya operasional, tetapi juga ketidakmampuan perusahaan beradaptasi di tengah persaingan industri penerbangan yang semakin ketat dan sensitif terhadap harga.
Menurutnya, suntikan dana negara yang terus dilakukan, tanpa perubahan mendasar justru berisiko memperpanjang masalah.
"Ini hanya menunda persoalan, bukan menyelesaikan," kata Rizal kepada Monitorindonesia.com, Jumat (3/4/2026).
Dia menilai kondisi tersebut dapat memunculkan moral hazard, di mana manajemen tidak terdorong untuk lebih disiplin karena adanya harapan akan terus diselamatkan oleh negara.
Dari sisi fiskal, mempertahankan Garuda Indonesia tanpa reformasi yang serius dinilai tidak efisien. Anggaran negara yang digunakan untuk menopang perusahaan berpotensi mengurangi ruang bagi belanja yang lebih produktif.
Rizal menambahkan, risiko bisnis yang seharusnya menjadi tanggung jawab korporasi kini justru ditanggung oleh negara, sedangkan manfaat ekonominya dinilai tidak sebanding.
Ia juga menyinggung pengalaman Merpati Nusantara Airlines sebagai contoh bahwa pemerintah sebenarnya mampu mengambil keputusan tegas ketika sebuah perusahaan sudah tidak lagi memiliki kelayakan ekonomi.
Menurutnya, jika tidak ada perubahan fundamental, baik dari sisi model bisnis, efisiensi operasional, maupun tata kelola, maka mempertahankan Garuda Indonesia hanya akan menjadi beban jangka panjang bagi keuangan negara.
Bahkan, dia menilai opsi penyesuaian skala usaha secara besar-besaran hingga kemungkinan keluar sebagian dari bisnis (partial exit) perlu mulai dipertimbangkan secara serius.
"Negara tidak bisa terus terjebak pada anggapan bahwa semua BUMN terlalu penting untuk gagal, tanpa dasar ekonomi yang kuat," jelas Rizal.
Ia menegaskan, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan Garuda Indonesia, tetapi juga kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara sehat.

