Jakarta, MI - Fenomena El Nino kembali menjadi sorotan global seiring meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada perubahan pola cuaca di berbagai wilayah. Belakangan, istilah “Godzilla El Nino” kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi El Nino dengan intensitas yang sangat kuat.
Fenomena ini diperkirakan membawa dampak besar bagi negara tropis seperti Indonesia, terutama karena ketergantungan tinggi pada kestabilan musim. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pertanian, yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Risiko kekeringan berkepanjangan pun mengancam produktivitas hingga ketahanan pangan nasional.
Guru Besar Agroklimatologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho menjelaskan bahwa El Nino sebenarnya merupakan siklus iklim alami yang sudah lama terjadi. Namun, perubahan iklim global membuat pola kemunculannya semakin sulit diprediksi.
Menurutnya, istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada kekuatan fenomena yang jauh lebih besar dari biasanya, sehingga dampaknya juga lebih serius, terutama bagi sektor pertanian.
"Komoditas pangan utama seperti padi dan jagung menjadi yang paling rentan. Kedua tanaman ini membutuhkan pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan. Jika terjadi kekurangan air, pertumbuhan tanaman akan terganggu, bahkan berpotensi gagal panen," kata dia dalam keterangan resminya seperti dilansir dari laman UGM, Minggu (5/4/2026).
Dia menyebut, dampak tersebut langsung dirasakan petani. Kekeringan yang terjadi setelah masa tanam dapat menyebabkan penurunan hasil panen hingga kerugian finansial, karena biaya produksi yang sudah dikeluarkan tidak dapat kembali.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Bayu menekankan pentingnya langkah mitigasi di tingkat petani. Salah satu kunci utama adalah komunikasi yang baik antara petani dan penyuluh pertanian, agar informasi terkait cuaca dan strategi tanam bisa diterima dengan cepat dan tepat.
Ia juga menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman menghadapi El Nino, termasuk melalui program pompanisasi, inovasi irigasi hemat air, serta pengembangan varietas tanaman tahan kekeringan. Selain itu, akses terhadap informasi cuaca kini semakin mudah diperoleh secara real time.
Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap bergantung pada kemampuan petani dalam beradaptasi. Di sinilah peran penyuluh menjadi sangat penting untuk membantu petani menerapkan teknologi dan strategi yang tepat di lapangan.
Ke depan, Bayu menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pihak terkait. Penyediaan informasi cuaca yang akurat hingga tingkat desa serta pengembangan inovasi pertanian dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman El Nino yang semakin ekstrem.
Fenomena ini diperkirakan membawa dampak besar bagi negara tropis seperti Indonesia, terutama karena ketergantungan tinggi pada kestabilan musim. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pertanian, yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Risiko kekeringan berkepanjangan pun mengancam produktivitas hingga ketahanan pangan nasional.
Guru Besar Agroklimatologi dari Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho menjelaskan bahwa El Nino sebenarnya merupakan siklus iklim alami yang sudah lama terjadi. Namun, perubahan iklim global membuat pola kemunculannya semakin sulit diprediksi.
Menurutnya, istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada kekuatan fenomena yang jauh lebih besar dari biasanya, sehingga dampaknya juga lebih serius, terutama bagi sektor pertanian.
"Komoditas pangan utama seperti padi dan jagung menjadi yang paling rentan. Kedua tanaman ini membutuhkan pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan. Jika terjadi kekurangan air, pertumbuhan tanaman akan terganggu, bahkan berpotensi gagal panen," kata dia dalam keterangan resminya seperti dilansir dari laman UGM, Minggu (5/4/2026).
Dia menyebut, dampak tersebut langsung dirasakan petani. Kekeringan yang terjadi setelah masa tanam dapat menyebabkan penurunan hasil panen hingga kerugian finansial, karena biaya produksi yang sudah dikeluarkan tidak dapat kembali.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Bayu menekankan pentingnya langkah mitigasi di tingkat petani. Salah satu kunci utama adalah komunikasi yang baik antara petani dan penyuluh pertanian, agar informasi terkait cuaca dan strategi tanam bisa diterima dengan cepat dan tepat.
Ia juga menilai Indonesia sebenarnya sudah memiliki pengalaman menghadapi El Nino, termasuk melalui program pompanisasi, inovasi irigasi hemat air, serta pengembangan varietas tanaman tahan kekeringan. Selain itu, akses terhadap informasi cuaca kini semakin mudah diperoleh secara real time.
Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap bergantung pada kemampuan petani dalam beradaptasi. Di sinilah peran penyuluh menjadi sangat penting untuk membantu petani menerapkan teknologi dan strategi yang tepat di lapangan.
Ke depan, Bayu menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pihak terkait. Penyediaan informasi cuaca yang akurat hingga tingkat desa serta pengembangan inovasi pertanian dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman El Nino yang semakin ekstrem.

