Jakarta, MI - Pemerintah memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tetap kuat dan stabil, meski kondisi global masih penuh tantangan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini diperkirakan bisa mencapai minimal 5,5%.
"Optimisme tersebut didukung oleh kuatnya konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama ekonomi nasional. Konsumsi masyarakat saat ini menyumbang sekitar 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)," kata dia dalam keterangan resminya, Kamis (9/4/2026).
Selain itu, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga dinilai cukup solid. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 14,3% atau mencapai Rp462,7 triliun.
Sektor manufaktur juga disebut masih berada dalam tren ekspansi, sehingga turut menopang pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi ketahanan pangan, pemerintah menilai kondisi nasional cukup aman. Produksi beras pada 2025 tercatat mencapai 34,7 juta ton, sementara stok beras Badan Urusan Logistik (Bulog) saat ini mencapai 4,6 juta ton.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah juga menyiapkan sejumlah kebijakan strategis. Salah satunya adalah penerapan program biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026.
"Program ini dinilai dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus menghemat anggaran negara hingga Rp48 triliun," ungkap Airlangga.
Di sisi fiskal, pemerintah juga menegaskan komitmennya menjaga disiplin anggaran. Rasio utang akan dipertahankan di kisaran 40%, jauh di bawah batas maksimal 60% yang diatur undang-undang.
"Sementara itu, defisit anggaran juga dipastikan tetap dijaga di bawah 3% hingga akhir tahun. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global," tutup Airlangga.

