Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus melemah dan berpotensi menyentuh level Rp17.400 per dolar AS pada April 2026. Tekanan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan global, terutama di kawasan Timur Tengah.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan. Kondisi ini meningkatkan risiko konflik, khususnya di wilayah strategis Selat Hormuz.
"Jika konflik benar-benar terjadi, rupiah bisa melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp17.400 per dolar AS, level yang sebelumnya diperkirakan baru terjadi di akhir tahun," kata dia dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).
Selain faktor geopolitik, bilang dia, penguatan dolar AS juga menjadi tekanan tambahan. Indeks dolar dilaporkan naik dari 98,6 ke sekitar 99,1 seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi global.
Di sisi lain, harga minyak dunia juga melonjak tajam. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sudah menembus USD104 per barel dan berpotensi naik hingga USD115–USD116 jika konflik meluas.
"Kondisi ini berdampak langsung ke Indonesia sebagai negara pengimpor energi. Kenaikan harga minyak membuat kebutuhan dolar AS meningkat untuk membiayai impor, sehingga menekan nilai tukar rupiah," ungkap Ibrahim.
Tak hanya itu, pelemahan rupiah juga berisiko membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pasalnya, asumsi nilai tukar dalam APBN berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS, sementara saat ini rupiah sudah bergerak di atas Rp17.000.
Karena itu, pemerintah diminta untuk waspada dan segera menyiapkan langkah antisipasi, baik dari sisi kebijakan maupun teknis.
"Hal itu perlu dilakukan, guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global," jelas dia.

