Jakarta, MI - Di tengah tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim yang terus membayangi sektor pertanian, Indonesia justru menunjukkan optimisme baru dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Optimisme itu mengemuka dalam Dialog Kebangsaan bertema “Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan” yang digelar Perum BULOG bersama Kementerian Pertanian RI di Gudang Sewa BULOG Romokalisari, Pergudangan Bumi Maspion, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Forum tersebut mempertemukan berbagai elemen bangsa mulai dari akademisi, pengamat, organisasi kepemudaan, mahasiswa, petani, hingga pelaku pasar untuk membahas masa depan swasembada pangan Indonesia. Hadir dalam kegiatan itu Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman serta Direktur Utama Perum BULOG Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani.
Sejumlah tokoh nasional dan akademisi turut hadir dalam dialog tersebut, di antaranya Muhammad Said Didu, Din Syamsudin, Prof. Ferdi dari Universitas Andalas, Prof. Inez Hortense dari IRRI, Prof. Mangku Purnomo dari Universitas Brawijaya, Prof. Nining Widyah Kusnanik dari Universitas Negeri Surabaya, serta Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati.
Kegiatan ini juga melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Jawa Timur, Gapoktan, organisasi kepemudaan, hingga pedagang pasar. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan memerlukan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat.
Dalam paparannya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa stok beras nasional saat ini mencatatkan capaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan pangan nasional di tengah tekanan pangan dunia.
Ia menjelaskan, peningkatan produksi pangan nasional juga diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik, FAO, dan United States Department of Agriculture yang mencatat produksi beras Indonesia mencapai 34,6 juta ton dengan surplus sekitar 4 juta ton.
“Capaian peningkatan ini tidak terlepas dari berbagai langkah pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pertanian, memperbaiki sarana produksi, mendorong penggunaan benih unggul tahan kekeringan, serta menghadirkan kebijakan strategis yang mendukung peningkatan produktivitas pangan nasional,” ujar Amran, Rabu (13/5/2026).
Sementara itu, Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menyebut penyelenggaraan dialog di kawasan gudang BULOG menjadi momentum penting untuk memperlihatkan secara langsung kondisi Cadangan Beras Pemerintah sekaligus memperkuat dialog lintas sektor mengenai masa depan pangan nasional.
“Stok BULOG sampai hari ini mencapai 5,329 juta ton dan menjadi puncak tertinggi sepanjang sejarah BULOG menyimpan beras. Potensi ini masih akan terus bertambah dan kami prediksi dapat mencapai 5,5 hingga 6 juta ton,” ujarnya.
Ia menambahkan, kuatnya stok beras nasional merupakan hasil sinergi pemerintah, petani, mitra penggilingan, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan sektor pangan. BULOG, kata dia, akan terus memperkuat penyerapan gabah dan beras petani demi menjaga cadangan beras pemerintah, stabilitas pasokan, dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Pengamat nasional Muhammad Said Didu menilai saat ini tengah terjadi revolusi besar dalam tata kelola sektor pertanian, terutama terkait integrasi data pangan nasional. Menurutnya, swasembada pangan tidak hanya diukur dari besarnya produksi, tetapi juga keberanian bangsa mengurangi ketergantungan impor.
“Dengan adanya satu data pangan yang lebih terintegrasi antara BPS, Kemendag, Kementan, dan BULOG, kebijakan pangan dapat berjalan lebih akurat, transparan, dan tepat sasaran. Ketika pangan terkendali, negara menjadi stabil, petani sejahtera, dan masyarakat dapat menikmati pangan yang tersedia dengan harga terjangkau,” kata Said Didu.
Pendapat senada disampaikan Din Syamsudin. Ia menilai Indonesia sebagai negara agraris memiliki modal besar untuk mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan.
“Capaian stok beras BULOG yang mencapai 5,3 juta ton menjadi bukti bahwa ketahanan pangan nasional semakin kuat dan perlu disyukuri bersama. Langkah BULOG bersama Kementerian Pertanian dalam menjaga stok, mendukung petani, dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat patut diapresiasi,” ujar Din Syamsudin.
Melalui Dialog Kebangsaan ini, BULOG kembali menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian penting dalam ekosistem ketahanan pangan nasional, mulai dari penyerapan hasil produksi petani, pengelolaan cadangan beras pemerintah, hingga distribusi pangan untuk menjaga stabilitas nasional.
BULOG juga menilai keterlibatan akademisi, mahasiswa, petani, pengamat, dan pelaku pasar menjadi langkah penting dalam memperkuat literasi publik terkait isu pangan. Dengan pemahaman yang lebih luas, swasembada pangan tidak hanya dipandang sebagai capaian produksi semata, tetapi juga sebagai kerja bersama demi menjaga keberlanjutan, ketersediaan, dan keterjangkauan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

