Jakarta, MI - Di gudang beras tampak puluhan truk memasuki kawasan pergudangan beras, di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Di atas truk tumpukan karung putih menjulang tinggi yang siap memenuhi lorong-lorong gudang. Suasana pun kian ramai dan aroma beras pun menyeruak tatkala pekerja giat mengangkut beras.
Kisah di gudang itu adalah potret kecil yang terlihat di Gudang BULOG di kawasan strategis Jalan Perintis Kemerdekaan, Sunter, Jakarta Utara. Di sana tersimpan ratusan ton beras yang siap ditanak dan dihidang di meja makan. Luas lahan sekitar 4,19 hektar dengan luas bangunan gudang mencapai 2,15 hektar itu berada di bawah Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten.
Memiliki gudang banyak dan berkualitas BULOG tidak terlalu khawatir dengan harga pasar bergejolak atau ancaman krisis pangan, gagal panen dan adanya bencana seperti fenomena El Nino pangan tetap aman.
Memasuki usia ke-59, BULOG kini telah mengukir sejarah dengan tinta emas, dimana bulan Mei 2026 ini, diketahui stok cadangan beras pemerintah telah menembus angka 5,3 juta ton. Capaian yang belum pernah diraih sepanjang Indonesia berdiri. Tidak hanya sampai disitu, akhir Mei 2026 ini BULOG menargetkan cadangan berasnya tembus 6 juta ton.
Target 6 juta ton bukan isapan jempol belaka, BULOG telah melakukan berbagai upaya untuk meraihnya. Tidak hanya angka statistik. Saat ini saja, ketika ancaman global kian menekan, BULOG malah mampu menyimpan stok pangan sebesar 5,3 juta ton. Tentu stok itu
untuk cadangan pangan bagi sekitar 287,9 juta jiwa dan sebagai wujud nyata ketahanan negara bidang pangan.
Apa yang telah dicapai BULOG adalah kristalisasi keringat dalam membangun kerja bersama lintas sektor. Secara tegas Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani dalam perayaan HUT ke-59 BULOG memastikan bahwa sampai bulan Mei ini stok BULOG sudah mencapai 5,3 juta ton.
"Tidak hanya itu, BULOG optimistis dalam akhir Mei ini, target kami dapat mencapai 6 juta ton,” katanya Kantor Pusat BULOG, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin 11 Mei 2026 lalu.
"Apa yang dicapai BULOG dalam menjaga stok pangan nasional adalah hasil kontribusi berbagai pihak, diawali dari petani, penggilingan padi, penyuluh pertanian, masyarakat, TNI-Polri hingga media, semuanya ikut berperan. Sehingga petani adalah pahlawan bangsa. Selain banyak pihak ikut berkontribusi sehingga gudang-gudang BULOG saat ini bisa penuh dan melimpah," sebutnya.
Awal kelahiran BULOG pun punya cerita tersendiri. BULOG lahir karena adanya kebutuhan besar bangsa untuk menjaga stabilitas pangan nasional. Dimana 10 Mei 1967, hari lahirnya BULOG melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 114 Tahun 1967 karena krisis pangan lantaran peralihan pemerintahan. Tentu saja, tugas utama BULOG untuk mengamankan stok pangan dan menstabilkan harga beras.
Pada masa itu, dan saat ini beras berperan penting dalam menjaga stabilitas negara, jika harga beras tidak stabil alamat kondisi sosial masyarakat akan kacau. Disinilah BULOG berperan, menjaga stabilitas harga yang bisa dijangkau olah masyarakat.
Perkembangan zaman punya kisahnya sendiri, BULOG pun terus mengalami transformasi demi menjaga stabilitas pangan. Tahun 2003 misalnya, terjadi perubahan status menjadi Perusahaan Umum (Perum) BULOG atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal ini membuat BULOG kian lincah, dimana tidak hanya berperan sebagai regulator stok pangan, melainkan sebagai operator logistik pangan nasional. Tentu fokusnya dalam pengelolaan cadangan pangan, distribusi, dan stabilisasi harga beras.
Akibat adanya transformasi, membuat BULOG dipacu agar lebih modern dan adaptif dalam menghadapi dinamika pasar pangan yang semakin kompleks.
Adanya krisis global yang tak menentu akhir-akhir ini membuat kehadiran BULOG terasa penting dan bermanfaat. Adanya gangguan iklim yang membuat gagal panen di sejumlah negara, selain konflik geopolitik mengganggu jalaur pasok pangan dunia.
Dalam kondisi tak menentu itu, BULOG yang dipimpin Ahamd Rizal Ramdhani memainkan perannya dengan menjemput bola gabah dan beras petani sampai ke petak-petak sawah pelosok negeri ini. Tatakala musim panen dimana harga gabah berpotensi jatuh, di situlah BULOG hadir menyerap hasil panen dengan harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Sebaliknya ketika harga beras melonjak di pasar, BULOG menggelontorkan stok melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Sehingga harga pun tetap stabil. Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan, fungsi BULOG bukan sekedar menyimpan beras, tetapi jauh dari itu, dimana pangan tetap terjangkau bagi masyarakat dan itu menjadi kata kuncinya.
Hal itu dibuktikan Ahmad Rizal Ramdhani, dia menyebut, beras medium dijual Rp12.500 per kilogram dan beras premium Rp14.900 per kilogram. Untuk Minyakita Rp15.700 dan jagung Rp5.400 per kilogram. "Itu hasil kerja semua pihak.Bukan kerja BULOG sendiri," tegasnya.
"Stabilitas harga, bagi masyarakat ekonomi lemah, pangan menjadi persoalan yang sangat menentukan kehidupan sehari-hari. Sebab, naiknya harga beras beberapa ribu rupiah saja bisa mempengaruhi pengeluaran rumah tangga masyarakat itu sendiri," ucapnya.
Itu sebabnya, BULOG pun aktif dalam menyalurkan paket sembako gratis, hal itu tentu bentuk bantuan pangan yang dibalut kepedulian sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah, petugas kebersihan, serta masyarakat miskin lainnya.
Penyaluran ribuan paket sembako di penjuru negeri termasuk pelosok Jakarta seperti Cilincing dan Marunda dalam masa periode Ramadan, Idul Fitri, bahkan saat May Day digelar pembagian sembako gartis bagi warga Jakarta di Monas.
Dalam kesempatan itu, BULOG menyalurkan 350.000 paket sembako kepada para buruh dan warga yang hadir di Monas atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Tidak main-main, isi paket Sembako, yakni berisi beras 2,5 kg, kopi, teh, gula, sarden, dan minyak goreng serta baju. Tentu tak ketinggalan doorprize motor listrik dan berbagai hadiah lainnya.
"Terima kasih Pak Presiden Prabowo Subianto telah memberikan sembako kepada kami," kata Ani (56) warga Jakarta Barat yang menerima semabko gratis di Monas.
Ditengah efisiensi, gelaran ulang tahun ke-59, BULOG tetap menggelar kegiatan seremonial, namun dengan kegiatan bazar murah, penyaluran 1.000 paket sembako, donor darah, santunan anak yatim hingga melibatkan sekitar 70 pelaku UMKM. "Demi efisiensi, maka HUT ke-59 ini, BULOG tidak membuat kegiatan yang menghambur-hamburkan uang," tegasnya.
Meski begitu, ada juga program tebus murah dengan diskon hampir 30 sampai 40 persen dari harga HET. Ini salah satu upaya BULOG membantu meringankan beban masyarakat ekonomi lemah.
Saat ini, BULOG juga telah mulai melakukan pengelolaan komoditas lain seperti jagung. Dimana sampain Mei 2026, stok jagung nasional yang dikuasai BULOG mendekati 300 ribu ton. Melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar 102 ribu ton.
Ahmad Rizal Ramdhani memastikan, stok jagung nyaris mencapai 300 ribu ton dan ini pencapaian tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. "Ya, ini juga sejarah dalam Indonesia merdeka dimana stok jagung mendekati 300 ribu ton," bebernya.
Komoditas jagung juga dibutuhkan para peternak, dimana menjadi bahan utama pakan ternak. Tentu saja jika harga jagung melejit, maka dampaknya dapat menjalar pada kenaikan harga telur dan daging ayam. Dalam mengantisipasi kondisi genting itu, BULOG mulai menyalurkan SPHP jagung ke daerah sentra peternakan.
Sementara itu, distribusi Minyakita juga menjadi perhatian BULOG, dalam beberapa waktu terakhir, Minyak goreng rakyat itu sempat mengalami persoalan distribusi di sejumlah daerah. Menjaga stok Minyakita BULOG pun melakukan inspeksi mendadak (sidak) di berbagai pasar di Jakarta dan di berbagai daerah. Hasilnya, harga pun tetap stabil.
Dalam kesempatan yang berbeda, Direktur Pemasaran BULOG Febby Novita menyampaikan bahwa BULOG bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab menyalurkan Minyakita. Berdasarkan aturan pemerintah katanya, distribusi dilakukan bersama sejumlah BUMN pangan lain dan produsen.
Febby menyebut bahwa BULOG telah menyalurkan sekitar 110 juta liter Minyakita ke berbagai wilayah Indonesia dan sebagian besar daerah kini mulai stabil dari sisi pasokan. "Ya, BULOG telah menyalurkan sedikitnya 110 juta liter Minyakita," ucap Febby.
Dalam kesempatan yang berbeda, pengamat politik dari Indonesian Public Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, stok beras BULOG hingga menembus target 6 juta ton patut diapresiasi apabila benar-benar terealisasi dan dapat dibuktikan secara terbuka kepada publik.
Ujang menjeaskan, bahwa ketahanan pangan adalah salah satu fondasi penting untuk menjaga stabilitas negara. Dimana keberhasilan menjaga stok beras dalam jumlah besar memiliki dampak luas, bukan hanya di sektor ekonomi, tetapi juga sosial dan politik.
“Kalau memang target 6 juta ton di gudang itu terlaksana dan bisa dibuktikan ke publik, artinya Pak Ahmad Rizal berprestasi, sukses, dan mampu menyediakan beras untuk kebutuhan masyarakat Indonesia dengan aman,” kata Ujang.
Pengamat politik ini memaparkan, masalah pangan menjadi tantangan besar yang harus dijaga pemerintah selain energi. Beras, kata dia, memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Bagaimanapun tantangan besar itu ada dua, yaitu energi dan pangan. Nah, pangan ini kan salah satunya soal beras. Beras menjadi penting dalam menjaga stabilitas politik, stabilitas ekonomi, stabilitas sosial, dan lain-lain,” ujarnya.
Menurut Ujang, stok beras yang melimpah menunjukkan bahwa pemerintah memiliki kesiapan menghadapi potensi gejolak global maupun ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim dan konflik internasional.
Ia menilai keberhasilan BULOG menjaga stok beras menjadi sinyal positif bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian dunia.
“Oleh karena itu, jika memang Pak Ahmad Rizal Ramdhani mampu menyediakan stok beras mencapai 6 juta ton di gudang BULOG, itu sesuatu yang bagus. Artinya bisa menjaga Indonesia, menjaga bangsa, dan menjaga ketahanan pangan nasional,” tuturnya.
Ujang juga mengingatkan bahwa capaian tersebut harus tetap diiringi pengawasan ketat terhadap distribusi dan kualitas pangan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurut dia, keberhasilan lembaga negara harus tetap mendapatkan apresiasi sebagai bentuk dukungan publik terhadap kinerja yang baik.
“Kalau itu benar-benar terjadi, tentu harus diapresiasi. Siapa yang punya kerja bagus dan kinerja bagus harus kita apresiasi. Begitu juga sebaliknya, yang punya kinerja buruk harus kita kritik,” ucapnya.
Namun tantangan BULOG ke depan tidak ringan. Perubahan iklim meningkatkan risiko gagal panen dan mengganggu pola produksi pangan nasional. Di saat yang sama, kebutuhan pangan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk.
Pemerintah juga menghadapi tantangan dalam menjaga efisiensi distribusi pangan di negara kepulauan seperti Indonesia. Tidak sedikit daerah yang masih menghadapi persoalan akses logistik sehingga harga pangan mudah melonjak ketika distribusi terganggu.
Untuk menjawab tantangan itu, BULOG mulai melakukan modernisasi sistem logistik dan digitalisasi pengelolaan stok. Teknologi digunakan untuk memantau distribusi, kualitas penyimpanan, hingga pergerakan stok pangan di berbagai wilayah.
Di lain pihak, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui bahwa capaian stok beras nasional saat ini merupakan hasil kerja keras bersama pemerintah dan BULOG.
“Ini kerja keras semua pihak, terutama teman-teman BULOG. Mungkin ini capaian tertinggi sejak BULOG berdiri,” ujar Amran.
Ia juga mengungkapkan bahwa penguatan cadangan pangan sempat terkendala keterbatasan anggaran pada awal pemerintahan. Namun pemerintah akhirnya mempercepat dukungan pendanaan untuk memperbesar stok nasional.
“Dulu uang BULOG tidak ada. Kami sampaikan langsung ke Bapak Presiden, dan dalam hitungan menit langsung direspons. Kebutuhan Rp16 triliun langsung direalisasikan,” katanya.
Di tengah tumpukan karung beras yang memenuhi gudang-gudang BULOG, sesungguhnya tersimpan lebih dari sekadar cadangan pangan. Ada kerja keras petani yang menjaga sawah tetap produktif. Ada upaya pemerintah menjaga harga tetap terkendali. Ada pula harapan masyarakat agar kebutuhan pokok tetap bisa dijangkau.
Selama 59 tahun, BULOG mungkin bekerja tanpa banyak sorotan. Namun lembaga ini terus hadir ketika masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pangan tetap tersedia.
Karena pada akhirnya, ketahanan pangan bukan hanya soal angka stok jutaan ton. Ia adalah tentang memastikan setiap keluarga Indonesia tetap bisa makan dengan tenang, hari ini, besok, dan di masa depan.

