Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Pelemahan itu membuat mata uang rupiah berada di level Rp 17.678 per USD pada perdagangan siang ini.
Dikutip dari data Bloomberg, Senin (18/5/2026), sekitar pukul 11.25 WIB, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.675 per USD atau melemah 77,5 poin (0,44%). Sedangkan di perdagangan siang ini, rupiah makin anjlok ke Rp17.678 per USD.
Menurut Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah turut dipengaruhi pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.
Menurut Ibrahim, pernyataan Presiden yang menyebut pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak bagi masyarakat di kampung atau desa justru memicu sentimen negatif di pasar. Pelaku ekonomi menilai pemerintah kurang menunjukkan sensitivitas terhadap tekanan ekonomi yang sedang terjadi.
"Pernyataan Presiden Prabowo ini juga berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim kepada media, Senin (18/5/2026).
Selain itu, kata dia, tekanan rupiah juga dipengaruhi sejumlah faktor fundamental, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang memperbesar beban impor energi Indonesia, mengingat kebutuhan impor minyak mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.
Lanjut dia menyatakan, pelemahan rupiah juga dipengaruhi tingginya repatriasi dividen perusahaan asing ke luar negeri juga meningkatkan permintaan dolar AS.
Kondisi tersebut diperparah dengan langkah sebagian investor dan masyarakat yang mulai memindahkan aset mereka dari rupiah ke mata uang asing demi menjaga nilai kekayaan.
"Hal itu membuat rupiah terus melemah, ditambah pernyataan Presiden yang dianggap meremehkan pelemahan rupiah," ungkap dia.

