Jakarta, MI - PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) memutuskan untuk keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema go private dan delisting.
Emiten menara telekomunikasi milik Grup Djarum itu akan menghapus pencatatan sahamnya dari pasar modal.
Keputusan tersebut diambil setelah SUPR dinilai gagal memenuhi ketentuan minimum free float atau kepemilikan saham publik yang ditetapkan BEI, meski perseroan mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi aturan tersebut.
Sebagai bagian dari proses go private, pemegang saham pengendali SUPR, yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia akan melakukan penawaran tender sukarela atau voluntary tender offer (VTO) kepada pemegang saham publik.
Harga tender offer ditetapkan sebesar Rp45.000 per saham, lebih tinggi dibanding harga penutupan saham SUPR sebelumnya di level Rp42.295 per saham.
Rencana go private dan delisting ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 20 Mei 2026 di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta.
Pemegang saham yang berhak mengikuti rapat adalah investor yang tercatat pada recording date 20 April 2026.
Jika disetujui, perseroan akan mengumumkan tender offer pada 22 Mei 2026. Sementara masa penawaran diperkirakan berlangsung pada 15 Juni hingga 14 Juli 2026.
Adapun pembayaran tender offer ditargetkan selesai pada 24 Juli 2026, sedangkan proses delisting dari BEI diperkirakan efektif pada 10 Maret 2027.
Kinerja Keuangan Masih Tumbuh
Di tengah rencana keluar dari bursa, SUPR sebenarnya masih membukukan kinerja positif sepanjang 2025.
Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp1,32 triliun atau tumbuh 36,08 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp974,31 miliar.
Pendapatan perusahaan juga naik menjadi Rp1,91 triliun dari sebelumnya Rp1,82 triliun.
Kepemilikan Publik Sangat Kecil
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 April 2026, Protelindo menguasai 97,33 persen saham SUPR atau sekitar 1,1 miliar saham.
Sementara Iforte Solusi Infotek memiliki 2,59 persen saham.
Adapun jumlah saham free float SUPR hanya tersisa sekitar 980 ribu lembar atau setara 0,09 persen dari total saham tercatat di BEI. Jumlah pemegang saham perseroan juga tercatat sekitar 632 investor.
Beneficial owner SUPR diketahui adalah konglomerat Grup Djarum, Victor Rahmat Hartono dan Martin Basuki Hartono.

