Jakarta, MI - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) buka suara terkait spekulasi di media sosial (medsos) mengenai dugaan margin call dan penjaminan saham anak usahanya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), setelah saham-saham Grup Barito mengalami tekanan jual besar dalam beberapa hari terakhir.
Selain TPIA, saham grup lain seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga ikut tertekan tajam di pasar.
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), saham TPIA kembali anjlok hingga menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) sebesar 14,66% ke level Rp2.270 per saham. Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menetapkan status Unusual Market Activity (UMA) terhadap saham TPIA dan CUAN sejak Rabu (20/5/2026).
Tekanan pada saham TPIA berlangsung cukup panjang. Sejak 7 Mei 2026, harga sahamnya turun drastis dari Rp6.375 menjadi Rp2.270 hanya dalam waktu sembilan hari perdagangan.
Dalam lima hari terakhir, saham TPIA bahkan tercatat mengalami ARB berturut-turut sebanyak lima kali.
Secara keseluruhan, saham TPIA sudah melemah 47,21% dalam sepekan, turun 62,63% dalam sebulan, dan anjlok 67,57% sejak awal tahun 2026.
Menanggapi isu yang beredar, manajemen BRPT menegaskan seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat.
"Seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham oleh Barito Pacific dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur,” tulis manajemen BRPT dalam keterbukaan informasi resmi di BEI, pada Kamis (21/5/2026).
Perseroan juga menyebut sistem penjaminan saham yang dilakukan telah dilengkapi mekanisme mitigasi untuk menghadapi volatilitas pasar.
"Perseroan terus menjaga rasio margin dan posisi likuiditas secara disiplin sesuai prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik," lanjut manajemen BRPT.
Berdasarkan dokumen yang beredar, sejumlah saham TPIA memang digunakan sebagai jaminan pembiayaan di beberapa bank.
Saham tersebut antara lain dijaminkan ke Bangkok Bank sebanyak 2,8 miliar lembar saham (berdasarkan akta fidusia No.29 tanggal 13 Desember 2022) dan Bank Negara Indonesia (BNI) sebanyak 2 miliar lembar saham sebelum stock split (berdasarkan akta gadai saham No.119 tanggal 21 September 2021).
Lalu, Bank Tabungan Negara (BTN) sebanyak 135 juta lembar saham (berdasarkan akta gadai saham No. 122 tanggal 24 Desember 2024). Selain itu, saham TPIA milik Prajogo Pangestu juga disebut dijaminkan kepada HSBC Singapore Branch sebanyak 1,5 miliar lembar saham.

