Jakarta, MI - Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang merupakan pengelola jaringan Alfamart, ditutup turun tajam 8,11% ke level 1.190 pada Selasa (26/5/2026), dari sebelumnya 1.295.
Nilai transaksi saham AMRT tercatat mencapai Rp445,83 miliar. Tekanan jual investor asing juga lebih besar dibanding pembelian, dengan foreign sell mencapai Rp381,50 miliar dan foreign buy sebesar Rp268,54 miliar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham AMRT menjadi salah satu saham yang paling membebani pergerakan IHSG dengan kontribusi penurunan sebesar 4,02 poin.
Tekanan juga terjadi pada saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), pengelola jaringan Alfamidi. Saham MIDI turun 2,72% ke level 286 dengan nilai transaksi mencapai Rp10,10 miliar.
Pelemahan kedua saham ritel tersebut terjadi setelah pernyataan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto kembali ramai dibahas pasar.
Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR pada November 2025, Yandri sempat menyampaikan wacana penghentian ekspansi minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret seiring pengembangan Koperasi Desa Merah Putih.
“Untuk apa membangun koperasi desa kalau Alfamart dan Indomaret terus berkembang di mana-mana?” ujar Yandri saat itu.
Menurutnya, keberadaan lebih dari 20 ribu gerai minimarket modern berpotensi mengganggu perkembangan koperasi desa.
Meski saham AMRT dan MIDI melemah, saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), entitas investasi yang terkait dengan Grup Salim sebagai pemegang saham Indomaret, justru menguat 1,54% ke level 9.900.

