BREAKINGNEWS

Rupiah Anjlok Rp18.000 per USD, Menkeu: Itu Ranah BI yang Bertugas

Rupiah Anjlok Rp18.000 per USD, Menkeu: Itu Ranah BI yang Bertugas
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - Pelemahan rupiah kembali menjadi sorotan setelah nilai tukar mata uang Garuda menembus level psikologis Rp18.000 per USD.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 11.40 WIB di pasar spot, rupiah dibuka melemah 74 poin atau 0,21% ke posisi Rp18.040 per USD.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah terus memantau perkembangan di pasar keuangan. 

Menurutnya, pelemahan rupiah belakangan ini lebih banyak dipicu sentimen dan spekulasi pasar dibandingkan faktor fundamental ekonomi Indonesia.

Purbaya menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas nilai tukar merupakan tugas dan kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

"Soal nilai tukar itu menjadi ranah Bank Indonesia. Kita biarkan mereka menjalankan tugasnya terlebih dahulu, sementara koordinasi tetap dilakukan secara rutin," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, seperti diberitakan Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, KSSK siap menggelar rapat koordinasi apabila diperlukan, terutama jika Bank Indonesia meminta langkah bersama untuk merespons kondisi pasar yang berkembang.

"Jika memang ada kebutuhan untuk memperkuat koordinasi demi mendukung stabilitas nilai tukar, tentu akan kami lakukan. Namun saat ini masih berada dalam kewenangan Bank Indonesia. Kalau BI meminta rapat khusus, kami siap menggelarnya," katanya.

Purbaya juga membantah rumor yang beredar bahwa dirinya meminta perbankan melakukan simulasi atau stress test terhadap kemungkinan rupiah melemah di atas Rp18.000 per USD.

Dia menyebut, informasi tersebut tidak benar dan justru berpotensi memperburuk sentimen pasar.

"Ada berbagai rumor yang beredar, termasuk kabar bahwa saya meminta bank melakukan stress test jika rupiah melewati Rp18.000. Itu tidak pernah saya sampaikan," tegasnya.

Ia menilai pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir terjadi cukup cepat dan banyak dipengaruhi faktor psikologis pasar. 

Meski demikian, pemerintah dan seluruh anggota KSSK tetap melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi ekonomi dan sistem keuangan nasional.

Purbaya menambahkan, rapat tingkat deputi KSSK secara rutin dilaksanakan setiap bulan untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi dan memberikan rekomendasi kepada pimpinan lembaga terkait.

Meski rupiah sedang tertekan, ia tetap optimistis karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.

"Tugas kami adalah memastikan fondasi ekonomi tetap terjaga dan semakin kuat. Pada akhirnya, nilai rupiah akan mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia," pungkasnya.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Rupiah Anjlok Rp18.000 per USD, Menkeu: Itu Ranah BI | Monitor Indonesia