Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per USD dinilai bukan sekadar pelemahan harian biasa. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap berbagai risiko ekonomi Indonesia, mulai dari faktor global hingga isu domestik.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan tekanan yang terjadi saat ini muncul secara bersamaan di berbagai pasar keuangan. Selain rupiah yang melemah hingga menembus Rp18.000 per USD untuk pertama kalinya, pasar saham juga mengalami tekanan, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat.
Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap risiko investasi di Indonesia. Investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kebijakan.
"Ini bukan hanya persoalan kurs rupiah, tetapi juga menyangkut tingkat kepercayaan investor terhadap aset-aset Indonesia secara keseluruhan," ujarnya alam keterangan resminya, Kamis (4/6/2026).
Dari sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Ketegangan yang meningkat mendorong kenaikan harga minyak dunia, memperkuat dolar AS, serta memicu arus keluar modal dari negara-negara berkembang.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak dan LPG. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS, memperlebar tekanan terhadap transaksi berjalan, serta menimbulkan kekhawatiran baru terkait beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bank Indonesia sebelumnya juga menyampaikan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, kenaikan harga minyak, tingginya permintaan dolar di dalam negeri, serta keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang.
Di sisi lain, faktor domestik turut menjadi perhatian investor. Pasar disebut sedang mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah, potensi pelebaran defisit anggaran, serta berbagai perubahan kebijakan yang dinilai dapat memengaruhi iklim investasi.
Josua menyoroti perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional sebagai salah satu faktor yang ikut membebani sentimen pasar. Sebelumnya, Fitch dan Moody's sama-sama memberikan outlook negatif terhadap Indonesia karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan, lemahnya penerimaan negara, serta risiko terhadap tata kelola dan kredibilitas kebijakan ekonomi.
Menurutnya, dalam situasi seperti saat ini, kebijakan yang dianggap mendadak atau kurang memiliki kepastian dapat memperbesar kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% untuk menjaga stabilitas rupiah, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk membalikkan arah pergerakan mata uang domestik.
"Kenaikan suku bunga memang membantu menahan tekanan, tetapi tidak bisa bekerja sendiri ketika pasar masih dibayangi kekhawatiran terkait fiskal, harga minyak, arus modal, dan kepastian kebijakan," jelasnya.
Namun demikian, Josua menilai pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Berdasarkan indikator Real Effective Exchange Rate (REER) per Mei 2026, rupiah justru diperkirakan berada dalam kondisi undervalued sekitar 5 hingga 10 persen.
Ia memperkirakan nilai wajar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp17.000 per USD. Dengan demikian, posisi rupiah yang telah menembus Rp18.000 lper USD ebih mencerminkan meningkatnya persepsi risiko dan tekanan sentimen pasar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi jangka menengah.
Meski rupiah secara fundamental dinilai masih cukup kuat, Josua mengingatkan bahwa pasar keuangan sering kali lebih dipengaruhi oleh persepsi risiko dalam jangka pendek.
"Selama ketidakpastian global dan domestik masih tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut meskipun secara valuasi mata uang Indonesia sudah tergolong murah," pungkas dia.

