BREAKINGNEWS

IHSG Makin Tertekan, BEI Buka Suara

IHSG Makin Tertekan, BEI Buka Suara
Papan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - Di tengah tekanan yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan kondisi fundamental pasar modal nasional masih berada dalam kondisi yang kuat.

Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan mayoritas perusahaan tercatat masih menunjukkan kinerja yang positif. Hingga akhir 2025, emiten di Bursa berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih lebih dari 21 persen.

Tidak hanya itu, kinerja perusahaan-perusahaan unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga mencatat pertumbuhan yang kuat pada kuartal I 2026. Menurut Jeffrey, laba bersih emiten LQ45 meningkat hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Secara keseluruhan, sekitar 80 persen perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih pada kuartal pertama 2026. Ini merupakan persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir," ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, seperti diberitakan Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan, pada 2020 hanya sekitar 63 persen emiten yang mencatatkan laba. Sementara sepanjang 2021 hingga 2025, proporsinya berkisar antara 73 hingga 76 persen. Kenaikan menjadi 80 persen pada kuartal I 2026 menunjukkan daya tahan korporasi Indonesia masih sangat baik.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah gejolak pasar yang menyebabkan IHSG merosot tajam. Pada sesi I perdagangan Kamis, indeks sempat anjlok 3,48 persen atau turun 206,81 poin ke level 5.734,26. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah harian di 5.644,23.

Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor. Dari total 959 saham yang diperdagangkan, hanya 68 saham yang menguat, sementara 716 saham melemah dan 175 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,72 triliun dengan volume perdagangan 20,87 miliar saham.

Meski pasar tengah bergejolak, Jeffrey menilai kondisi tersebut belum mencerminkan pelemahan fundamental perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.

Ke depan, BEI berkomitmen terus meningkatkan transparansi dan kualitas pasar melalui penguatan data, penyajian informasi yang lebih rinci, serta publikasi data terkait konsentrasi kepemilikan saham (high shareholding concentration/HSC) sebagai bagian dari agenda reformasi pasar modal.

Selain itu, BEI juga optimistis Indonesia tetap mampu mempertahankan statusnya sebagai pasar berkembang (emerging market) di mata investor global.

"Kami sangat optimistis Indonesia akan tetap berada dalam kategori emerging market. Berbagai langkah perbaikan yang sudah dilakukan menjadi dasar keyakinan kami terhadap prospek pasar modal Indonesia ke depan," kata Jeffrey.

Menurutnya, kombinasi kinerja emiten yang solid, peningkatan transparansi pasar, dan reformasi yang terus berjalan menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah tantangan pasar global dan domestik.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

IHSG Makin Tertekan, BEI Buka Suara | Monitor Indonesia