BREAKINGNEWS

Menkeu Bantah Rupiah Anjlok karena Ugal-ugalan buat Anggaran

Menkeu Bantah Rupiah Anjlok karena Ugal-ugalan buat Anggaran
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Dok. Istimewa)

Jakarta, MI - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa kebijakan fiskal pemerintah berjalan secara agresif hingga memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah. 

Menurutnya, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei 2026 justru menunjukkan perbaikan yang signifikan, didukung oleh peningkatan penerimaan negara dan membaiknya keseimbangan primer.

Dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Jakarta, pada Jumat (5/6/2026), Purbaya menegaskan bahwa berbagai indikator fiskal masih berada dalam kondisi sehat dan terkendali, meski meningkat menjadi 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Kalau dibilang Purbaya ugal-ugalan membuat anggaran yang kacau, sehingga mengganggu nilai tukar, saya justru bingung dari mana. Penerimaan pajak meningkat, defisit tetap terjaga, dan kondisi fiskal secara keseluruhan masih sangat baik,” kata dia.

Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan pendapatan negara hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen secara tahunan. 

Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp1.365,4 triliun, meningkat 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan perkembangan tersebut, APBN mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Meski lebih tinggi dibandingkan posisi April 2026 yang berada di level Rp164,4 triliun atau 0,64 persen PDB, Purbaya menilai angka tersebut masih jauh dari batas yang ditetapkan dalam APBN dan tetap berada pada jalur yang aman.

Menurutnya, kemampuan pemerintah menjaga defisit tidak terlepas dari membaiknya kinerja penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan dan kepabeanan.

“Yang paling penting, kondisi ini masih bisa dikendalikan. Salah satu faktor utamanya karena penerimaan pajak dan bea cukai mengalami perbaikan yang cukup kuat,” ungkap dia.

Selain itu, pemerintah juga mencatat peningkatan kualitas fiskal yang tercermin dari surplus keseimbangan primer. Hingga Mei 2026, surplus keseimbangan primer mencapai Rp58,6 triliun, meningkat tajam dibandingkan posisi April yang berada di kisaran Rp28 triliun.

Purbaya menilai capaian tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi APBN semakin berkelanjutan dan memiliki ruang yang lebih kuat untuk mendukung pembiayaan negara.

“Surplus keseimbangan primer kembali meningkat menjadi Rp58,6 triliun. Ini menunjukkan struktur anggaran kita semakin sehat dan lebih berkelanjutan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya,” jelasnya.

Ia juga menanggapi berbagai analisis yang beredar di media sosial terkait kondisi fiskal nasional. Menurut Purbaya, perbedaan metode perhitungan tidak mengubah fakta bahwa indikator utama APBN saat ini menunjukkan tren yang positif.

Berdasarkan rincian penerimaan negara, penerimaan perpajakan hingga Mei 2026 mencapai Rp958,2 triliun atau tumbuh 18,9 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak meningkat 22,1 persen menjadi Rp834,4 triliun, sementara penerimaan kepabeanan dan cukai naik 0,7 persen menjadi Rp123,8 triliun.

Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp226,4 triliun atau tumbuh 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan capaian tersebut, Purbaya menegaskan bahwa fundamental fiskal Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid, meskipun perekonomian global dan pasar keuangan tengah menghadapi berbagai tekanan.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Menkeu Bantah Rupiah Anjlok karena Ugal-ugalan buat Anggaran | Monitor Indonesia