BREAKINGNEWS

Bank Dunia Ungkap Risiko Serius di Balik Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000

Bank Dunia Ungkap Risiko Serius di Balik Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000
Bank Dunia memberi peringatan terkait meningkatnya tekanan terhadap ekonomi Indonesia setelah rupiah terpuruk hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Bank Dunia (World Bank) menyoroti meningkatnya tekanan pada rupiah dan pasar keuangan Indonesia yang dipicu kombinasi faktor domestik serta memburuknya kondisi global.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia mencatat nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026. Kondisi ini terjadi seiring derasnya arus keluar modal asing dan meningkatnya ketidakpastian di pasar global.

Lembaga multilateral itu juga menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bermula dari dua guncangan yang terjadi sejak awal tahun. Guncangan pertama datang dari pasar keuangan domestik, setelah MSCI mengumumkan peninjauan status sejumlah saham Indonesia dalam indeks pasar berkembang.

Langkah tersebut dipicu kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan dan rendahnya porsi saham beredar bebas (free float), sehingga memicu aksi jual di pasar saham sekaligus menurunkan minat investor terhadap aset Indonesia.

Tekanan kemudian semakin kuat setelah konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari 2026. Ketegangan ini mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$ 100 per barel pada pertengahan Maret, meningkatkan tekanan inflasi global dan memperburuk sentimen investor terhadap negara berkembang. 

Bank Dunia mencatat, arus keluar investasi portofolio pada kuartal I-2026 mencapai sekitar US$1,7 miliar atau setara 0,1% terhadap PDB. Meski sebagian tekanan dapat diredam oleh masuknya dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), nilai tukar rupiah tetap melemah sekitar 6% sepanjang tahun hingga Mei 2026.  

Tak hanya menekan nilai tukar, gejolak tersebut juga berdampak pada kenaikan biaya pembiayaan, baik bagi pemerintah maupun dunia usaha. "Imbal hasil obligasi yang tinggi dan premi risiko yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya pinjaman, memberi tekanan pada rupiah, dan mempersempit ruang fiskal," tulis Bank Dunia dalam laporannya yang dikutip Kamis (11/6/2026).

Ke depan, Bank Dunia mengingatkan bahwa prospek ekonomi Indonesia masih menghadapi risiko eksternal yang cukup besar. Gangguan berkepanjangan pada pasokan minyak dunia dan jalur pelayaran internasional berpotensi memperkuat tekanan inflasi, meningkatkan biaya subsidi energi, menekan rupiah, hingga mempersempit ruang fiskal. 

Dalam skenario itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027-2028 diperkirakan lebih rendah 0,2 hingga 0,3 poin persentase dibandingkan proyeksi dasar Bank Dunia.

Karena itu, Bank Dunia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat kepercayaan investor, serta mempercepat reformasi struktural guna meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi berbagai guncangan global.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Bank Dunia Ungkap Risiko Serius di Balik Kejatuhan Rupiah ke | Monitor Indonesia