Jakarta, MI - Harga minyak dunia turun lebih dari 5 persen pada perdagangan Selasa (16/6/2026) waktu AS. Penurunan ini dipicu harapan pasar bahwa ketegangan antara AS dan Iran mulai mereda, sehingga pasokan minyak dari Timur Tengah berpotensi kembali meningkat ke pasar global.
Minyak mentah Brent ditutup di level 78,96 dolar AS per barel, turun 4,21 dolar AS atau 5,1 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi lebih dalam dengan penurunan 4,70 dolar AS atau 5,8 persen ke posisi 76,05 dolar AS per barel.
Penurunan ini membuat harga minyak Brent ditutup pada level terendah sejak 2 Maret 2026. Sementara itu, WTI juga merosot ke posisi terendah sejak 4 Maret 2026.
Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong kenaikan harga sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari.
Investor juga merespons munculnya kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang berpotensi memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, membuka kembali Selat Hormuz, serta memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak ke pasar internasional.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut sebelum konflik pecah.
Melansir Reuters, Selasa (16/6/2026), Director of Energy Futures Mizuho Bob Yawger mengatakan harga minyak saat ini turun cepat karena pasar meyakini Selat Hormuz akan segera kembali dibuka.
"Harga minyak mentah turun cepat karena asumsi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali," ujar Yawger.
Penurunan harga minyak terjadi meski data persediaan minyak mentah Amerika Serikat menunjukkan pengetatan pasokan.
American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 8,33 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni 2026. Angka tersebut jauh lebih besar dibanding ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 4,6 juta barel.
Dalam kondisi normal, penurunan inventori sebesar itu cenderung menjadi faktor pendukung harga minyak. Namun pada perdagangan kali ini, sentimen geopolitik lebih dominan dibanding data fundamental pasokan.
Pasar juga memperkirakan pasokan minyak global akan bertambah jika kesepakatan benar-benar terwujud.
Managing Principal Obsidian Risk Advisors, Brett Erickson, menilai Iran memiliki lebih dari 100 juta barel minyak yang tersimpan di fasilitas penyimpanan dan kapal tanker. Cadangan itu berpotensi kembali masuk ke pasar jika hambatan ekspor berkurang.
Menurutnya, langkah tersebut dapat memberikan keuntungan finansial yang besar bagi Iran setelah berbulan-bulan menghadapi tekanan akibat blokade ekspor.
Selain perkembangan di Timur Tengah, harga minyak juga tertekan oleh data dari China. Aktivitas pengolahan minyak di negara tersebut pada Mei 2026 turun 9,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang terendah dalam hampir empat tahun. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran terhadap permintaan dari konsumen minyak terbesar kedua di dunia tersebut.
Di sisi lain, OPEC+ tetap melanjutkan rencana menaikkan produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli 2026. Perubahan ekspektasi pasar terhadap kondisi pasokan global juga mendorong sejumlah lembaga keuangan merevisi proyeksi harga minyak.
Goldman Sachs memangkas target harga Brent kuartal IV 2026 menjadi 80 dolar AS per barel dari sebelumnya 90 dolar AS per barel. Sementara itu, Morgan Stanley juga memperkirakan harga Brent rata-rata berada di kisaran 80 dolar AS per barel pada periode yang sama.
Meski mengalami penurunan, harga minyak saat ini masih lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik AS-Iran pecah. Pada 27 Februari 2026, sehari sebelum perang dimulai, harga Brent ditutup di 72,48 dolar AS per barel dan WTI berada di level 67,02 dolar AS per barel.

