BREAKINGNEWS

Stok Minyak Dunia Menyusut, DPR Desak Pemerintah Percepat Investasi Migas

Stok Minyak Dunia Menyusut, DPR Desak Pemerintah Percepat Investasi Migas
DPR Minta Pemerintah Segera Benahi Investasi Hulu Migas di Tengah Penurunan Stok Dunia (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan pemerintah untuk eksplorasi dan investasi di sektor hulu minyak dan gas (migas), di tengah tren penurunan stok minyak global dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, mengatakan produksi minyak mentah negara-negara anggota OPEC+ saat ini telah berkurang sekitar 8 juta barel per hari (bph). Di sisi lain, cadangan minyak strategis di sejumlah negara besar juga menyusut hingga sekitar 1,2 miliar barel dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Sugeng, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya, sebagian besar lapangan migas di Indonesia sudah memasuki usia tua sehingga produksinya terus menurun akibat penurunan produksi alami sekitar 7%-10% per tahun.

“Cadangan migas nasional terus menurun dan produksi mengalami natural decline sekitar 7%—10% per tahun. Untuk itu, pemerintah perlu mendorong eksplorasi dan investasi di sektor hulu migas,” ujar Sugeng kepada wartawan di Kompleks DPR/MPR, Rabu (17/6/2026).

Sugeng menjelaskan, produksi minyak negara-negara OPEC+ yang sebelumnya berada di kisaran 103 juta barel per hari kini turun menjadi sekitar 93-95 juta barel per hari. Penurunan tersebut dinilai menciptakan kekurangan pasokan minyak di pasar global.

Menurutnya, kondisi itu juga diperparah oleh menyusutnya cadangan minyak Amerika Serikat (AS) dan China. Saat ini, kedua negara tersebut tengah berupaya mengisi kembali cadangan energinya.

Lebih lanjut, Sugeng mengingatkan Indonesia perlu mencermati perkembangan tersebut karena masih bergantung pada impor energi, baik untuk bahan bakar minyak (BBM) maupun liquefied petroleum gas (LPG).

“LPG kita juga masih impor sehingga perkembangan harga minyak dunia menjadi sangat penting. Untuk itu, Komisi XII DPR bersama pemerintah dan Pertamina secara rutin melakukan mitigasi dan pemantauan terhadap kondisi pasar energi global,” jelasnya.

Sugeng juga menilai perhitungan lifting migas harus dibuat lebih terperinci. Dalam kaitan itu, ia menyatakan saat ini torehan produksi siap jual atau lifting minyak turut memperhitungkan komponen kondensat dan natural gas liquid (NGL).

“Dengan pemisahan komponen tersebut, perhitungan ICP dan berbagai indikator energi lainnya akan menjadi lebih akurat,” katanya.

Kilang minyak China secara tajam mengurangi produksi bulan lalu ke level terlemah dalam hampir empat tahun, setelah impor minyak mentah negara itu anjlok ke level terendah delapan tahun karena hampir terhentinya pengiriman dari Teluk Persia.

Data menunjukkan volume pengolahan minyak turun 9,1% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 53,72 juta ton. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Agustus 2022.

Sementara itu, tingkat utilisasi kilang milik negara rata-rata hanya mencapai 66,3% pada akhir bulan, menjadi level terendah sejak pencatatan data dimulai pada akhir 2021.

Adapun, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV-2026 menjadi US$80/barel dari proyeksi sebelumnya sebesar US$90/barel, seiring rencana AS dan Iran menandatangani kesepakatan yang diprediksi mengakhiri perang.

Bank investasi tersebut mengasumsikan ekspor dari kawasan Teluk bakal kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli, dari sebelumnya diproyeksikan bakal terjadi pada akhir Agustus.

“Meskipun perincian lengkap dari perjanjian tersebut belum jelas, kami sekarang berasumsi bahwa ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli,” ungkap para analis Goldman Sachs tersebut termasuk Daan Struyven dalam catatannya, dikutip Selasa (16/6/2026).

Selain itu, proyeksi rata-rata harga minyak Brent sepanjang 2027 juga dipangkas menjadi sekitar US$75/barel dari sebelumnya sebesar US$80/barel.

Sementara itu, harga minyak menuju tren penurunan terpanjang dalam hampir 10 bulan terakhir. Kondisi ini dipicu meningkatnya ekspektasi bahwa kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz akan memicu gelombang pasokan, melonggarkan pasar minyak mentah global.

Pada perdagangan terbaru, minyak mentah Brent tercatat melemah untuk hari kelima berturut-turut dan bergerak di bawah level US$79 per barel, mendekati titik terendah dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$76 per barel.

Kesepakatan sementara yang disebut-sebut akan ditandatangani pada Jumat mendatang menawarkan insentif ekonomi bagi Teheran, termasuk kesempatan untuk kembali menjual minyaknya dalam waktu dekat.

Harapan akan berakhirnya ketegangan antara Washington dan Teheran telah menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. 

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Stok Minyak Dunia Menyusut, DPR Desak Pemerintah Percepat In | Monitor Indonesia