BREAKINGNEWS

Prospek Saham Batu Bara Masih Suram, DSI hingga Royalti jadi Beban

Prospek Saham Batu Bara Masih Suram, DSI hingga Royalti jadi Beban
Ketidakpastian DSI dan Royalti masih membebani saham batu bara (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Meski tekanan di pasar mulai mereda, prospek saham emiten batu bara Indonesia masih dibayangi berbagai ketidakpastian kebijakan yang membuat ruang penguatannya belum sepenuhnya terbuka.

Sucor Sekuritas menilai proses penyesuaian valuasi saham batu bara belum sepenuhnya selesai. Sejumlah faktor masih menjadi tanda tanya, mulai dari implementasi tahap kedua PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), arah kebijakan royalti, hingga kenaikan suku bunga yang berpotensi menekan kinerja perusahaan.

Dalam riset yang diterbitkan pada 3 Juli 2026, analis Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari menurunkan rekomendasi sektor batu bara menjadi netral.

Yoga menilai, harga saham emiten batu bara memang telah terkoreksi cukup dalam sejak pengumuman DSI. Namun, mayoritas saham masih belum mampu kembali ke level sebelum kebijakan tersebut diumumkan.

"Pasar telah mulai memperhitungkan risiko ketidakpastian kebijakan. Namun kami menilai proses penyesuaian valuasi (re-rating) belum selesai," jelas Yoga.

Sucor menyebut salah satu sumber ketidakpastian terbesar berasal dari implementasi DSI tahap kedua.

Meski pemerintah menegaskan Danantara hanya akan bertugas mengawasi perdagangan dan kepatuhan tanpa mengambil alih kontrak ekspor maupun mengganggu hubungan bisnis antara perusahaan dan pembeli, penjelasan itu dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran investor.

“Kami belum melihat hal ini sebagai penyelesaian menyeluruh atas risiko yang membayangi sektor ini,” ujar Yoga.

Ia menilai fokus Danantara dalam mengawasi praktik transfer pricing dan mencegah under-invoicing justru berpotensi menambah biaya kepatuhan bagi perusahaan tambang. Di sisi lain, mekanisme pengawasan serta standar pelaporan pada tahap berikutnya juga masih belum dijelaskan secara rinci.

Selama aturan pelaksanaannya belum jelas, Sucor memperkirakan investor masih akan memberikan diskon terhadap valuasi saham-saham batu bara.

Selain itu, ancaman kenaikan tarif royalti juga masih membayangi sektor ini. Sucor menilai pemerintah berpeluang kembali menaikkan royalti sebagai salah satu cara meningkatkan penerimaan negara.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang menunda rencana kenaikan royalti. Namun, pemerintah juga membuka kemungkinan kebijakan tersebut diterapkan apabila kebutuhan fiskal meningkat.

Bagi perusahaan tambang yang menggunakan skema Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) standar, kenaikan tarif efektif sebesar 2-4 poin persentase diperkirakan akan menambah biaya produksi tunai sekitar USD1-3 per ton, sehingga margin keuntungan ikut tergerus.

Tekanan tersebut semakin berat seiring kenaikan suku bunga domestik. Sucor mencatat imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun telah mencapai sekitar 7,1 persen dan masih berpotensi naik hingga 8 persen.

Kondisi itu diperkirakan akan meningkatkan biaya pendanaan bagi perusahaan dengan utang besar sekaligus menekan valuasi saham sektor batu bara secara keseluruhan.

Dengan berbagai risiko tersebut, Sucor memangkas proyeksi laba seluruh emiten batu bara yang berada dalam cakupan analisanya. Revisi itu didasarkan pada meningkatnya risiko kepatuhan akibat DSI, potensi kenaikan royalti, serta lingkungan suku bunga yang lebih tinggi.

Meski begitu, peluang jangka pendek masih terbuka apabila harga batu bara bertahan di level tinggi. Emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar Amerika Serikat juga diperkirakan mendapat keuntungan tambahan dari pelemahan nilai tukar rupiah.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, AADI tetap menjadi saham pilihan utama Sucor. Perusahaan dinilai memiliki struktur biaya produksi yang kompetitif, posisi kas bersih yang kuat, serta prospek tambahan dana sekitar USD890 juta dari rencana divestasi aset Kestrel.

Menurut Yoga, transaksi itu berpotensi membuka ruang bagi pembagian dividen spesial dengan imbal hasil lebih dari 20 persen, ditambah potensi dividen final sekitar 10 persen pada 2026.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Prospek Saham Batu Bara Masih Suram, DSI hingga Royalti jadi | Monitor Indonesia