Jakarta, MI– PT Agrinas Palma Nusantara mendapat mandat besar dari pemerintah untuk mengelola kawasan perkebunan seluas 4,1 juta hektare yang berada di kawasan hutan. Luas lahan tersebut setara sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan akan menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan pangan serta energi nasional.
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Abdul Ghani mengungkapkan, pengelolaan lahan dilakukan secara bertahap melalui tujuh tahapan sesuai proses yang telah ditetapkan pemerintah.
"Hingga hari ini kami diamanahkan mengelola perkebunan yang ada di kawasan hutan seluas 4,1 juta hektare. Luasnya sekitar satu setengah kali Pulau Jawa," ujar Abdul Ghani dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Senin (6/7/2026).
Dari total lahan tersebut, sebanyak 1,7 juta hektare telah selesai diverifikasi. Di dalamnya terdapat sekitar 730 ribu hektare kebun sawit, sementara sisanya merupakan lahan perkebunan non-sawit.
Sementara itu, sekitar 2,5 juta hektare lainnya masih menjalani proses verifikasi. Lahan-lahan tersebut tersebar di berbagai daerah, mulai dari Aceh seluas 173 ribu hektare, Riau 729 ribu hektare, hingga Papua mencapai 494 ribu hektare.
Selain mengelola kawasan perkebunan yang telah diserahkan pemerintah, Agrinas Palma juga mendapat penugasan baru dari Menteri Pertanian untuk mendukung program swasembada pangan dan energi nasional.
Dalam program tersebut, perusahaan ditargetkan mengembangkan 400 ribu hektare kebun sawit, 400 ribu hektare tanaman kedelai, 300 ribu hektare singkong sebagai bahan baku etanol, serta 250 ribu hektare jagung.
Menurut Abdul Ghani, pengembangan berbagai komoditas tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis hasil pertanian.
Tak hanya memperluas areal tanam, Agrinas Palma juga bersiap menghidupkan kembali fasilitas produksi biodiesel di Rengat, Provinsi Riau. Pabrik dengan kapasitas produksi mencapai 600 ribu ton per tahun itu ditargetkan kembali beroperasi pada akhir tahun depan.
"Karena ini sifatnya reaktivasi, kami berharap fasilitas produksi biodiesel di Rengat bisa kembali beroperasi pada akhir tahun depan," kata Abdul Ghani.**
