Jakarta, MI - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) kembali mencatat kenaikan pada awal perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Iran. Perkembangan terbaru ini meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa gencatan senjata yang masih rapuh di antara kedua negara berpotensi gagal bertahan, sehingga memicu risiko gangguan terhadap pasokan energi global.
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,95 atau sekitar 2,8% ke level US$72,39 per barel pada pukul 22.15 GMT. Penguatan tersebut melanjutkan tren positif pada perdagangan Selasa, ketika WTI juga ditutup menguat 2,8%. Setelah penutupan pasar, harga minyak kembali terdorong naik menyusul keputusan pemerintah AS mencabut lisensi umum yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak mentah Iran.
Pada Selasa, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan ke Iran dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, Qatar menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut, termasuk kapal tanker gas alam cair (LNG) Al Rekayyat.
Kapal tersebut dilaporkan diserang menggunakan drone hingga memicu kebakaran di ruang mesin. Meski demikian, seluruh awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat.
Di sisi lain, sumber keamanan maritim mengungkapkan bahwa sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi yang diduga merupakan supertanker Wedyan mengalami kerusakan di perairan lepas pantai Oman. Hingga kini, penyebab kerusakan kapal tersebut belum dapat dipastikan.
Serangkaian insiden itu kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Kekhawatiran akan potensi terganggunya arus pengiriman minyak melalui kawasan tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan permintaan terhadap aset energi.
