Jakarta, MI– Pemerintah mulai mematangkan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) berkapasitas besar di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Proyek strategis tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas antara 10.000 hingga 30.000 kiloliter (KL) sebagai upaya memperkuat ketahanan pasokan energi di kawasan kepulauan.
Rencana tersebut mengemuka setelah Pemerintah Kabupaten Selayar menawarkan wilayahnya sebagai lokasi pembangunan storage BBM kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menjamin ketersediaan BBM sekaligus memperlancar distribusi energi ke wilayah kepulauan yang selama ini bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, M. Rizwi Jilanisaf Hisjam, mengatakan kajian awal menunjukkan kebutuhan BBM di Selayar terus meningkat sehingga dibutuhkan fasilitas penyimpanan dengan kapasitas besar.
"Sehingga kapasitas storage tank tahap awal yang direncanakan diperkirakan berada pada kisaran 10.000 kiloliter hingga 30.000 kiloliter," ujar Rizwi dalam keterangannya, Minggu (12/7/2026).
Berdasarkan hasil perhitungan Kementerian ESDM, kebutuhan harian solar di Selayar diperkirakan mencapai 30-50 KL dengan rencana penyimpanan awal sekitar 6.000 KL.
Sementara itu, konsumsi Pertalite diperkirakan berada pada kisaran 20-40 KL per hari, sehingga dibutuhkan kapasitas penyimpanan awal sekitar 4.000 KL.
Adapun kebutuhan Pertamax diproyeksikan mencapai 5-10 KL per hari dengan kapasitas storage awal sekitar 2.000 KL.
Secara keseluruhan, kebutuhan BBM di Kabupaten Selayar diperkirakan mencapai 70 hingga 90 KL setiap hari. Berdasarkan proyeksi tersebut, total kebutuhan fasilitas penyimpanan untuk tiga jenis BBM itu mencapai sekitar 12.000 KL, sehingga pemerintah menyiapkan opsi pembangunan tangki penyimpanan hingga 30.000 KL untuk mengantisipasi peningkatan permintaan di masa mendatang.
Pembangunan storage BBM ini juga menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat infrastruktur energi nasional, terutama di wilayah kepulauan dan daerah terpencil, agar distribusi BBM semakin andal serta mampu menjaga ketahanan pasokan ketika terjadi gangguan cuaca maupun distribusi logistik.**
