Banda Aceh, MI– Penemuan cadangan gas raksasa di Blok Andaman mulai memicu gelombang minat investasi di Aceh. Sejumlah perusahaan nasional maupun asing kini menjajaki pengembangan industri hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, seiring dorongan Pemerintah Aceh agar kekayaan energi tersebut diolah di dalam daerah dan memberi nilai tambah bagi perekonomian lokal.
Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi mengatakan hilirisasi migas dari Blok Andaman menjadi salah satu agenda strategis Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem). Pemerintah berharap gas alam yang ditemukan di lepas pantai Aceh tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi menjadi fondasi lahirnya industri baru di Tanah Rencong.
"Hilirisasi migas dari Blok Andaman memang menjadi agenda utama Gubernur Mualem," kata Nurlis, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, sejumlah investor telah mulai melakukan penjajakan untuk mengembangkan industri hilir di KEK Arun. Salah satunya adalah PT Indoasia Oiltank Terminal, perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur energi dan petrokimia. Direksi perusahaan tersebut telah bertemu dengan Pemerintah Aceh bersama tim akademisi dari Fakultas Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) guna membahas peluang investasi.
Pemerintah Aceh menilai prospek hilirisasi sangat besar. Lapangan Gas Tangkulo di Blok Andaman diperkirakan mampu memproduksi sekitar 300 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah itu, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan kepada PLN melalui perjanjian Gas Sale Agreement (GSA), sementara sisanya dinilai masih terbuka untuk memenuhi kebutuhan industri di Aceh.
"Potensinya masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan industri di Aceh," ujar Nurlis.
Gas dari Blok Andaman direncanakan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti metanol, hidrogen, hingga bahan baku petrokimia. Selain gas, lapangan tersebut juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi nafta, kerosin, dan gasoline, sehingga membuka peluang lahirnya industri turunan di kawasan KEK Arun.
Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) juga telah mengumumkan rencana pembangunan dua pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur untuk mendukung kebutuhan biodiesel nasional, yang semakin memperkuat prospek hilirisasi migas di provinsi tersebut.
Di sisi lain, Gubernur Muzakir Manaf menginginkan seluruh proses pengolahan gas dan kondensat Blok Andaman dilakukan di KEK Arun Lhokseumawe, bukan di fasilitas lepas pantai. Langkah itu diyakini akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan investasi, dan memperbesar penerimaan daerah.
Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah masih mengkaji aspek keekonomian proyek tersebut. Menurutnya, lokasi Lapangan Gas Tangkulo yang berada lebih dari 12 mil dari daratan membuat pembangunan pipa menuju KEK Arun membutuhkan investasi yang sangat besar.
"Kita harus mencari solusi yang win-win. Kalau biaya investasinya terlalu tinggi tentu harus dihitung secara matang. Yang penting menguntungkan rakyat Aceh, menguntungkan investor, dan memberikan manfaat bagi negara," kata Bahlil.
Meski demikian, masuknya sejumlah korporasi yang mulai melirik KEK Arun menunjukkan optimisme bahwa Blok Andaman berpotensi menjadi motor kebangkitan industri energi dan petrokimia Aceh, sekaligus mengembalikan peran kawasan Arun sebagai pusat industri migas nasional dengan nilai tambah yang lebih besar.**
