Jakarta, MI - Pemerintah menargetkan seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia sudah menyalurkan biodiesel campuran 50% atau B50 mulai 1 Oktober 2026. Saat ini, progres distribusi B50 telah mencapai 67% sejak program tersebut diresmikan pada 9 Juli lalu.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi optimistis target penyaluran penuh B50 dapat tercapai dalam waktu dekat.
"Target saya adalah 1 Oktober sudah full B50 di semua titik. Kemarin yang kita laporkan pada saat peresmian dengan Pak Presiden kan 67% sudah tersalurkan. Nah mudah-mudahan dalam beberapa minggu ini sudah nyampe lah 100%," kata Eniya usai acara Pekan Riset Sawit Indonesia di Jakarta Pusat, Senin (20/7/2026).
Eniya menjelaskan, pemerintah juga membuka kemungkinan adanya penyesuaian volume biodiesel nasional sesuai kebutuhan. Nantinya, pengaturan volume tidak lagi bersifat kaku, melainkan menggunakan skema rentang atau range.
Saat ini, kebutuhan biodiesel ditetapkan dalam kisaran 16 juta hingga 18 juta kiloliter (KL). Ke depan, angka tersebut dapat diperbarui melalui Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM dengan mempertimbangkan kondisi kebutuhan nasional.
"Mungkin ke depan, revisi volume dalam satu tahun itu bisa dilakukan. Jadi kita mulai pakai range lah seperti yang sekarang kita tetapkan 16-18 juta kan. Nah ke depan mungkin 18 (juta) sampai sekian juta. Jadi ada range-nya," tuturnya.
Menurut Eniya, pemerintah masih akan memantau masa transisi penerapan B50 selama empat bulan pertama. Evaluasi akan dilakukan pada Desember untuk melihat apakah distribusi berjalan lancar atau tidak.
"Nanti di Desember yang selama 4 bulan ini pertama kita lihat transisi. Apakah bisa berjalan dengan baik atau tidak. Apakah semua bisa dalam waktu 3 bulan itu menyelesaikan semua full B50," kata dia.
Selain kesiapan distribusi, ESDM juga akan mengevaluasi kemampuan badan usaha penyalur di luar Pertamina dalam mendukung program tersebut.
Saat ini, Pertamina masih menjadi penyalur terbesar dengan porsi sekitar 80% pasar, sedangkan sisanya berasal dari badan usaha swasta.
"Nanti tinggal identifikasi yang non-Pertamina. Karena pertamina kan share-nya 80%. Nah yang non-Pertamina ini berapa deliver ke B50-nya gitu," pungkas Eniya.
