Jakarta, MI - Rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu (22/7/2026) akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah naik.
Rupiah dibuka turun 0,36% ke level Rp17.947 per dolar AS sebelum bergerak membaik ke posisi Rp17.919 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
Kenaikan harga minyak Brent sebesar 1,69% menjadi US$92,55 per barel menjadi salah satu pemicu tekanan terhadap rupiah. Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi impor dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di Asia, rupiah berada di jajaran mata uang yang melemah bersama baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura. Sementara dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong masih mencatat penguatan.
Pelaku pasar kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan sore ini. Pasar memperkirakan BI menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 6% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Namun, kenaikan suku bunga belum tentu cukup mengangkat rupiah jika konflik Timur Tengah terus memanas. Risiko gangguan pasokan minyak masih dapat menjaga harga energi tinggi dan membatasi penguatan mata uang Garuda.
Tekanan dari penguatan dolar AS, arus keluar dana asing, dan ketidakpastian geopolitik membuat rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif.
