BREAKINGNEWS

Pefindo Turunkan Peringkat 3 BUMN, Tekanan Likuiditas dan Risiko Utang Jadi Sorotan

Pefindo Turunkan Peringkat 3 BUMN, Tekanan Likuiditas dan Risiko Utang Jadi Sorotan
Pefindo Turunkan Peringkat 3 BUMN, Tekanan Likuiditas dan Risiko Utang Jadi Sorotan

Jakarta, MI – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memangkas peringkat kredit tiga badan usaha milik negara (BUMN) sepanjang semester I 2026. Langkah ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan keuangan yang dihadapi perusahaan pelat merah, terutama akibat likuiditas yang melemah, tingginya risiko pembiayaan ulang (refinancing), serta beban kewajiban utang yang semakin berat.

Tiga BUMN yang mengalami penurunan peringkat adalah PT PP Tbk (PTPP), Perum Perumnas, dan PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP).

Analis Divisi Pemeringkatan Nonjasa Keuangan 2 Pefindo, Qorri Aina, mengatakan penurunan tersebut didasarkan pada meningkatnya risiko finansial yang dihadapi masing-masing perusahaan.

"Ketiga perusahaan ini mengalami downgrade maupun perubahan outlook karena tingginya risiko refinancing, tekanan likuiditas, serta meningkatnya risiko pemenuhan kewajiban utang," ujar Qorri dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026).

Pefindo menurunkan peringkat PT PP dari A/Stable menjadi BBB+/Negative. Sementara Perumnas dipangkas dari B/Negative menjadi CCC/CreditWatch Negative, yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan berada dalam tekanan serius.

Situasi lebih berat dialami Adhi Commuter Properti (ADCP). Emiten properti tersebut mengalami dua kali penurunan peringkat hanya dalam kurun enam bulan, dari BBB-/Negative menjadi B/Negative, kemudian kembali turun menjadi CCC/CreditWatch Negative.

Pefindo menilai peringkat ADCP masih berpotensi kembali diturunkan apabila perusahaan gagal memenuhi kewajiban finansialnya. Sebaliknya, status CreditWatch dapat ditinjau ulang apabila terdapat kepastian pembayaran jaminan serta perbaikan kondisi likuiditas dan pendanaan perusahaan.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Pefindo mencatat 11 aksi pemeringkatan terhadap perusahaan sektor nonjasa keuangan, baik berupa kenaikan maupun penurunan peringkat.

Di tengah gelombang penurunan tersebut, beberapa emiten justru mencatat perbaikan. PT PP Property Tbk (PPRO) naik menjadi B/Stable, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) meningkat dari status Selective Default (SD) menjadi B/CreditWatch Negative, sedangkan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memperoleh kenaikan menjadi A+/Stable berkat membaiknya kinerja operasional dan profil keuangan perusahaan.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Pefindo Turunkan Peringkat 3 BUMN, Tekanan Likuiditas dan Risiko Utang Jadi Sorotan | Monitor Indonesia